Gambar dan Insiden Kematian Kanker

DEFINISI KANKER

Penyakit kanker merupakan salah satu penyakit tidak menular yang menjadi beban kesehatan di seluruh dunia. Kanker merupakan penyakit yang ditandai dengan adanya sel yang abnormal yang bisa berkembang tanpa terkendali dan memiliki kemampuan untuk menyerang dan berpindah antar sel dan jaringan tubuh. Sedangkan Hari Kanker Sedunia diperingati setiap 4 Februari.

INSIDEN KANKER

Insiden kanker menjadi penyebab kematian yang banyak terjadi pada manusia. Data dari Global Burden of Cancer (GLOBOCAN) yang dirilis oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan bahwa jumlah kasus dan kematian akibat kanker sampai dengan tahun 2018 sebesar 18,1 juta kasus dan 9,6 juta kematian di tahun 2018. Kematian akibat kanker diperkirakan akan terus meningkat hingga lebih dari 13,1 juta pada tahun 2030.

Kanker payudara termasuk kanker yang paling banyak menyerang warga Indonesia, selain kanker leher rahim, kanker paru, kanker kolorektal, dan kanker lever. Tahun 2020 , menurut data Global Cancer Statistics (Globocan) yang dirilis oleh WHO, di Indonesia terdapat 396.914 kasus kanker baru dengan 234.511 kematian yang disebabkan oleh kanker. Berikut uraian lebih lanjut tentang Kanker leher rahim dan kanker payudara yang merupakan kanker paling banyak .

KANKER SERVIKS

Kanker serviks adalah kanker yang tumbuh pada sel-sel di leher rahim. Umumnya, kanker serviks tidak menunjukkan gejala pada tahap awal. Gejala baru muncul, saat kanker sudah mulai menyebar. Dalam banyak kasus, kanker serviks berkaitan dengan infeksi menular seksual. Daerah pada organ reproduksi wanita yang merupakan pintu masuk ke arah rahim yang terletak antara rahim (uterus) dengan liang senggama (vagina).

Kanker serviks terdiri dari stadium :

Kanker Serviks Stadium 0:

Pada stadium 0, sel-sel kanker terbatas pada permukaan serviks. Tahap ini juga dikenal sebagai karsinoma in situ (CIS) atau cervical intraepithelial neoplasia (CIN) grade III (CIN III). Pada stadium ini, tidak ada gejala yang muncul secara khas.

Kanker Serviks Stadium 1:

Pada tahap 1 kanker serviks, pertumbuhan kanker sudah masuk ke dalam leher rahim tetapi belum menyebar ke bagian lain. Biasanya, gejalanya tidak terlihat jelas, mungkin hanya adanya keputihan berwarna pink dan sedikit perdarahan saat berhubungan seksual.

Tahap ini dibagi menjadi dua bagian:

1A: Ukuran kanker masih kecil, kurang dari 5 mm, dan    hanya dapat terlihat di bawah mikroskop.

1B: Kanker dapat terlihat secara langsung dan ukurannya 4 cm atau kurang; atau terlihat di bawah mikroskop dengan ukuran lebih dari 5 mm.

Kanker Serviks Stadium 2:

Pada stadium 2, kanker telah tumbuh melampaui leher rahim dan rahim, tetapi belum mencapai dinding panggul atau bagian bawah vagina. Gejala yang mungkin muncul termasuk pendarahan saat berhubungan seksual dan keluarnya keputihan yang tidak biasa.

Tahap ini dibagi menjadi dua bagian:

2A: Kanker belum menyebar ke samping leher rahim, tetapi mungkin sudah tumbuh di bagian atas vagina.

2B: Kanker sudah menyebar ke samping leher rahim (parametrium).

Kanker Serviks Stadium 3:

Pada stadium 3, kanker telah menyebar ke bagian bawah vagina atau dinding panggul, tetapi belum sampai ke kelenjar getah bening terdekat atau bagian tubuh lainnya. Gejalanya dapat berupa pendarahan abnormal, keputihan yang tidak biasa, dan nyeri panggul.

Tahap ini dibagi menjadi dua bagian:

3A: Kanker sudah menyebar ke sepertiga bagian bawah vagina, tetapi belum ke dinding panggul.

3B: Kanker sudah tumbuh ke dalam dinding panggul dan mungkin memblokir kedua ureter, tetapi belum menyebar ke kelenjar getah bening atau tempat lain.

Kanker Serviks Stadium 4:

Pada stadium lanjut ini, kanker telah menyebar ke organ terdekat atau bagian tubuh lainnya. Gejala bisa menjadi lebih parah dan bervariasi tergantung pada organ yang terkena. Misalnya, jika kanker telah menyebar ke kandung kemih atau rektum, gejalanya mungkin meliputi masalah buang air kecil atau besar. Sedangkan jika kanker telah menyebar ke organ di luar panggul seperti paru-paru atau hati (Stadium IVB), gejalanya akan tergantung pada organ yang terkena.

Tahap ini dibagi menjadi dua bagian:

IVA: Kanker sudah menyebar ke kandung kemih atau rektum, tetapi belum ke kelenjar getah bening atau tempat lain.

IVB: Kanker sudah menyebar ke organ di luar panggul, seperti paru-paru atau hati. Berikut gambar stadium pada kanker serviks (American Cancer Society,2024).

Kanker serviks adalah salah satu penyakit dengan gejala diam artinya penyakit yang tidak menunjukkan gejala. Salah satu gejala yang sering terjadi yaitu pendarahan vagina setelah berhubungan seks dan diluar periode menstruasi atau wanita yang sudah masuk dalam periode menopause. 

Bila telah menjadi kanker invasif, gejala yang paling umum antara lain:

  1. Perdarahan (contact bleeding, perdarahan saat berhubungan intim)
  2. Keputihan.
  3. Pada stadium lanjut, gejala dapat berkembang menjadi nyeri pinggang atau perut bagian bawah karena desakan tumor di daerah pelvik ke arah lateral sampai obstruksi ureter,
  4. Oligoria (volume urine sangat sedikit, yaitu kurang dari 400 mL/24 jam) atau anuria (oliguria paling parah, yang berarti ginjal tidak memproduksi cukup urin).

Penyebab kanker serviks diketahui adalah virus HPV (Human Papilloma Virus) subtipe onkogenik, terutama sub tipe 16 dan 18. Penularan HPV akan dipermudah dengan pergantian pasangan seksual.

Adapun faktor risiko terjadinya kanker serviks antara lain:

  1. Berhubungan seksual dengan suami/pasangan pria yang memiliki riwayat hubungan seksual dengan pekerja seks komersial yang membawa infeksi HPV.
  2. Aktivitas seksual pada usia muda,
  3. Berhubungan seksual dengan multipartner,
  4. Merokok.
  5. Mempunyai anak banyak.
  6. Sosial ekonomi rendah.
  7. Pemakaian pil KB dalam jangka waktu tertentu (dengan HPV negatif atau positif).
  8. Penyakit menular seksual.
  9. Gangguan imunitas.

Ada beberapa metode yang sudah tersedia untuk melakukan skrining kanker serviks:

  1. Inspeksi Visual Asam Asetat (IVA),
  2. Pap Smear (konvensional atau liquid-base cytology /LBC ),
  3. Inspeksi Visual Lugol Iodin (VILI),
  4. Test DNA HPV (genotyping / hybrid capture)

Deteksi dini kanker serviks dan pemeriksaan klinik dapat dilakukan di fasilitas kesehatan dengan berbagai cara di bawah ini :

  1. Inspeksi
  2. Kolposkopi
  3. Biopsi serviks
  4. Sistoskopi
  5. Rektoskopi
  6. USG
  7. BNO -IVP
  8. Foto toraks dan bone scan
  9. CT scan atau MRI, PET scan
  10. Kecurigaan metastasis ke kandung kemih atau rektum harus dikonfirmasi dengan biopsi dan sitologi

WHO Wilayah Asia Tenggara baru-baru ini mengembangkan strategi pengendalian kanker serviks di Wilayah Negara Asia Tenggara. Strategi ini merekomendasikan pendekatan menuju pengendalian kanker serviks yang komprehensif termasuk kebijakan terhadap vaksin HPV. Vaksin human papillomavirus (HPV) adalah salah satu intervensi yang direkomendasikan untuk anak perempuan berusia 9-13 tahun untuk pencegahan primer. Program skrining kanker serviks dengan menggunakan tes skrining yang hemat biaya dapat diterapkan untuk deteksi dini kondisi pra-kanker dan kanker. Sistem kesehatan perlu diperkuat untuk layanan perawatan preventif, kuratif dan paliatif untuk kanker

Pengertian

Vaksin HPV merupakan vaksin yang diberikan untuk melindungi perempuan dari risiko terinfeksi virus HPV (Human Papillomavirus), penyebab utama kanker leher rahim atau serviks

Jenis Vaksin dan Efektifitas

Vaksin HPV memiliki tiga jenis vaksin yang tersedia secara komersial: bivalen, quadrivalent, dan nonvalent. Vaksin quadrivalent melindungi terhadap empat tipe HPV (6, 11, 16 dan 18) dan vaksin bivalen melindungi terhadap dua HPV tipe 16 dan 186. Vaksin nonavalen (sembilan valen) yang baru-baru ini diperkenalkan melindungi terhadap lima tipe HPV 31, 33, 45, 52 dan 58 selain jenis yang tercakup dalam vaksin quadrivalent.  Secara efektivitas, vaksin HPV dapat menurunkan risiko kanker serviks secara drastis. Sehingga dapat dijadikan solusi yang tepat untuk pencegahan kanker serviks bagi wanita. Namun, kekhawatiran dapat muncul berupa apa selanjutnya efek samping yang akan ditimbulkan setelah diberikan vaksin HPV pada pasien.

Efek Samping

Komite Penasihat Global untuk Keamanan Vaksin (GACVS) telah merilis pernyataan tahun 2013 dan 2014 mengenai keamanan vaksin berdasarkan bukti yang tersedia. Berdasarkan pengamatan komite ini, vaksin HPV tidak menimbulkan efek samping yang serius seperti sinkop, anafilaksis, tromboemboli vena, hasil kehamilan yang merugikan dan stroke.

Pada pelaksanaan vaksinasi, staf kesehatan yang bertanggung jawab perlu diberikan edukasi mengenai efek samping umum dari vaksin. Dalam uji klinis vaksin bivalen dan quadrivalent, terdapat efek samping ringan seperti nyeri pada tempat suntikan yakni pada sekitar 83-93% pasien yang menerima kedua vaksin. Efek samping ringan lainnya yg dilaporkan berupa sakit kepala dan kelelahan yakni sebesar 50-60% dari kelompok yang divaksinasi.

Efek samping yang dapat timbul dari penerima vaksin HPV sebagian besar bersifat ringan, bahkan efek samping yang serius disangkal berdasarkan distribusi yang telah diamati di banyak pasien penerima vaksin sebelunnya. Sehingga para wanita calon penerima vaksin HPV sebagai upaya pencegahan kanker serviks dapat lebih merasa aman untuk mendapatkan vaksin

Usia Pemberian dan Dosis

Pedoman vaksin HPV untuk perempuan dari Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia pada tahun 2017 mengungkapkan bahwa vaksin HPV yang dapat dilakukan berupa bivalen atau quadrivalent yang sudah banyak beredar di Indonesia. Efektivitas maksimal untuk pemberian vaksin dapat diberikan kepada wanita berusia 9-26 tahun atau yang belum aktif secara seksual. Usia maksimal wanita penerima vaksin adalah hingga 55 tahun. Namun dengan dilakukannya vaksin, deteksi dini seperti Pap Smear atau IVA tetap perlu dilakukan minimal 3 tahun sekali. Serta ibu hamil di Indonesia tidak direkomendasikan untuk vaksin HPV, melainkan menunggu hingga proses kelahiran atau kehamilan selesai .

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia pada April 2022 ini mengeluarkan pernyataan bahwa vaksin HPV akan menjadi salah satu vaksin wajib yang dibiayai oleh pemerintah. Target penerima vaksin HPV sendiri akan ditujukan kepada anak sekolah sebagai bagian dari program Bulan Imunisasi Anak sekolah (BIAS) untuk anak kelas 5 atau 6 SD. Target dari KEMENKES RI diharapkan program ini pada tahun 2023 sudah dilaksanakan di semua provinsi dan kabupaten/kota. Dalam https://ayosehat.kemkes.go.id/apa-itu-vaksin-hpv aturan Pemberian HPV SBB :
Anak dan Remaja
– Satu atau dua dosis dalam selang waktu 6-12 bulan bagi anak usia 9-14 tahun
– Satu atau dua dosis dalam selang waktu 6 bulan bagi remaja usia 15-20 tahun
Dewasa
– Dua dosis dalam selang waktu 6 bulan bagi perempuan berusia di atas 21 tahun

Pemberian vaksin HPV tidak disarankan bagi perempuan berusia di atas 26 tahun. Walaupun ada pula perempuan dalam rentang usia 27-45 tahun yang meminta rekomendasi dokter untuk melakukan vaksinasi HPV. Namun, manfaatnya tidak sebesar perempuan berusia di bawah 26 tahun, karena biasanya mereka sudah terpapar virus HPV. Selain kelompok usia tersebut, kelompok ini juga tidak disarankan untuk mendapatkan vaksin HPV, yaitu orang-orang yang
Pernah mengalami reaksi alergi yang serius, terhadap vaksin HPV atau kandungan yang terdapat dalam vaksin. 
Memiliki alergi pada ragi (Gardasil dan Gardasil 9).
Sedang hamil
Sedang mengalami sakit yang cukup serius. Vaksinasi aman dilakukan pada orang yang tidak mengalami demam walaupun ada sedikit batuk dan pilek.

Ada beberapa pilihan penanganan yang akan disarankan oleh dokter sesuai dengan kondisi kesehatan pasien, ketika seseorang mengalami kanker:

  1. Lesi Pra Kanker
    Pada tingkat pelayanan primer (Puskesmas) dengan sarana dan prasarana terbatas dapat dilakukan program skrining atau deteksi dini dengan tes IVA. Skrining dengan tes IVA dapat dilakukan dengan cara single visit approach atau see and treat program, yaitu bila didapatkan temuan IVA positif maka selanjutnya dapat dilakukan pengobatan sederhana dengan krioterapi oleh dokter umum atau bidan yang sudah terlatih. Selanjutnya Pada skrining dengan tes Pap smear dilakukan di rumah sakit, temuan hasil abnormal direkomendasikan untuk konfirmasi diagnostik dengan pemeriksaan kolposkopi.
  2. Kanker invasif
    a. Konisasi
    b. Operatif : histerektomi
    c. Non operatif: Radiasi (EBRT dan brakiterapi), Kemoradiasi (Radiasi : EBRT dengan kemoterapi konkuren dan brakiterapi), neoadjuvan kemoterapi
  1.  

KANKER PAYUDARA

Kanker payudara adalah keganasan yang berasal dari sel kelenjar, saluran kelenjar, dan jaringan penunjang payudara, tidak termasuk kulit payudara. Faktor risiko yang utama berhubungan dengan keadaan hormonal (estrogen dominan) dan genetik. Penyebab terjadinya keadaan estrogen dominan dapat terjadi karena beberapa faktor risiko

Tanda dan gejala paling sering adanya benjolan atau penebalan di payudara tanpa rasa nyeri sedangkan tanda gejala yang lain perubahan bentuk dan kontur payudara, perubahan warna dan bentuk putting susu, warna kemerahan dan pembengkakan kulit seperti kulit jeruk, keluar darah dan cairan dari puting

 

Adapun tanda dan gejala lain dapat berupa :

  • Pembengkakan kelenjar getah bening di bawah ketiak
  • Pembengkakan seluruh atau sebagian payudara
  • Nyeri Payudara (dengan benjolan)
  • Kulit kemerahan dan bersisik seperti kulit jeruk
  • perubahan kontur payudara, puting tertarik ke dalam
  • keluarnya cairan dari puting

Faktor resiko yang dapat meningkatkan risiko kanker payudara terdiri dari yang “dapat dikontrol dan yang tidak dapat dikontrol “. Resiko yang dapat di kontrol : obesitas, olahraga, menyusui,alkohol, hormone replacement therapi , Keluarga berencana (hormonal terutama oral yang dipakai secara terus menerus) dan mempunyai anak.

Sedangkan faktor resiko yang tidak dapat dikontrol terdiri dari :umur, riwayat keluarga, ras, radiasi, faktor genetik, riwayat haid dan riwayat reproduksi.

Hasil meta analisis  mengkonfirmasi hubungan antara faktor risiko yang dapat dimodifikasi (paritas, indeks massa tubuh dan penggunaan kontrasepsi oral) dan faktor risiko yang tidak dapat dimodifikasi (riwayat kanker payudara dalam keluarga, usia dan status menopause) dengan kanker payudara (Ricvan dkk,2017).

Penyebab kanker payudara masih menjadi misteri, tetapi sejumlah faktor yang dapat meningkatkan risiko Kanker Payudara telah teridentifikasi melalui penelitian. Berikut adalah faktor-faktor penyebab kanker Payudara:

  1. Diet yang Tidak Sehat:
    • Peningkatan berat badan setelah menopause.
    • Pola makan tinggi lemak ala barat.
    • Konsumsi minuman beralkohol.
    • Paparan asap rokok, baik sebagai perokok aktif maupun pasif.
  2. Faktor Hormon dan Reproduksi:
    • Menstruasi pertama pada usia yang relatif muda (kurang dari 12 tahun).
    • Menopause pada usia yang relatif tua (lebih dari 50 tahun).
    • Tidak pernah melahirkan.
    • Infertilitas.
    • Melahirkan anak pertama pada usia yang relatif tua (lebih dari 35 tahun).
    • Penggunaan kontrasepsi oral dalam jangka waktu yang lama.
    • Tidak menyusui.
  3. Paparan Radiasi di Area Dada.
    • Faktor ini mencakup paparan radiasi di area dada, yang dapat berasal dari beberapa prosedur medis seperti terapi radiasi.
  4. Riwayat Keluarga:
    • Adanya gen tertentu seperti BRCA1, BRCA2.
    • Riwayat keluarga dengan anggota yang mengalami kanker payudara dan ovarium.
  5. Riwayat Tumor sebelumnya.
    • Jika seseorang telah mengalami kanker payudara sebelumnya, ini dapat meningkatkan risiko untuk mengembangkan kanker payudara kembali.

Ada beberapa pilihan penanganan yang akan disarankan oleh dokter sesuai dengan kondisi kesehatan pasien, ketika seseorang mengalami kanker, antara lain:

  1. Kemoterapi Neoadjuvan:
    • Penggunaan kemoterapi sebelum intervensi bedah utama untuk mengecilkan tumor.
    • Bertujuan untuk membuat prosedur operasi lebih efektif.
  2. Kemoradiasi:
    • Kombinasi antara kemoterapi dan radioterapi.
    • Bertujuan untuk menghancurkan sel-sel kanker dan mencegah pertumbuhan sel kanker.
  3. Terapi Hormonal:
    • Penggunaan hormon atau obat-obatan hormonal untuk menghentikan pertumbuhan sel kanker yang tergantung hormon.
    • Umumnya digunakan untuk kanker payudara yang memiliki reseptor hormon positif.
  4. Operatif (Mastektomi):
    • Tindakan pembedahan untuk mengangkat seluruh payudara atau bagian payudara yang terinfeksi kanker.
    • Mastektomi dapat dilakukan sebagai langkah preventif atau sebagai bagian dari perawatan kanker payudara.
  5. Radioterapi:
    • Penggunaan sinar ionisasi tinggi untuk menghancurkan sel kanker atau mencegah pertumbuhan sel kanker.
    • Biasanya dilakukan setelah operasi untuk membersihkan sisa sel kanker.


Deteksi dini adanya benjolan di payudara perlu di lakukan sesegara mungkin. Hal ini untuk dilakukannya pengobatan sejak dini. Jika kanker dapat ditemukan secara dini (dengan ukuran tumor masih kecil kurang dari 1cm) dan ditangani dengan cepat dan tepat, harapan untuk sembuh hampir 100%.

  1. SADARI (Periksa Payudara Sendiri) dilakukan sebulan sekali setelah selesai haid, semenjak wanita mulai mendapatkan haid pertama atau pada usia 12 tahun. 

  2. SADANIS (Pemeriksaan Payudara Klinis)

  3. MAMMOGRAFI/USG

SADARI (Pemeriksaan Payudara Sendiri)

KANKER PARU

Salah satu penyakit yang tergolong tidak menular dan menjadi beban  kesehatan di seluruh dunia yaitu penyakit kanker . Menurut laporan Global Burden of Cancer (Globocan) dari World Health Organization  (WHO) menyatakan bahwa jumlah kematian yang diakibatkan oleh kanker di Indonesia pada tahun 2020 mencapai 234.511 orang, berdasarkan jenisnya kasus  kematian pada kanker paru menjadi tertinggi, jumlahnya mencapai 30.843 orang  atau 13,2% dari semua kematian akibat kanker. Kanker paru merupakan penyakit yang memiliki ciri khas adanya pertumbuhan sel ganas pada jaringan paru-paru. Apabila tidak segera dirawat pertumbuhan sel ini bisa tidak terkontrol dan penyebarannya bisa ke jaringan dan organ sekitar .

Kanker paru adalah suatu keganasan pada paru-paru yang disebabkan oleh perubahan genetika pada sel epitel saluran nafas, sehingga terjadi proliferasi sel (siklus pembelahan sel) yang tak terkendali. Keganasan tersebut bisa bermula dari organ paru itu sendiri (primer) atau dari luar paru (metastasis). Individu yang mengidapnya sering tidak menyadari bahwa penyakit itu ada, karena gejala penyakit ini sering tidak dikenali pada tahap tertentu. Pada stadium awal, kanker paru tidak begitu menimbulkan gejala yang menonjol, namun dari waktu ke waktu gejala umum yang bisa dilihat  adalah batuk yang semakin memburuk dan tidak pernah reda, sesak nafas, merasa nyeri secara konstan di bagian dada, batuk berdarah, sering terkena infeksi paru, merasa letih setiap saat, dan mengalami penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas .

Kanker paru-paru banyak terjadi pada orang yang melakukan kebisasaan dan dan aktivitas yang dapat menyebabkan masalah paru-paru seperti merokok, yang merupakan salah satu penyebab utama kanker di Indonesia . Namun, selain kebiasaan negatif tersebut, beberapa makanan juga bisa memicu terjadinya kanker paru, seperti makanan tinggi lemak jenuh dan karbohidrat olahan . Sebagian besar kanker merupakan hasil dari banyak faktor risiko. Faktor  risiko merupakan sesuatu yang meningkatkan risiko terkena kanker paru, bisa  karena perilaku, kondisi, atau substansi. Beberapa faktor risiko kanker paru yaitu umur , jenis kelamin , kebiasaan merokok, perokok pasif, paparan zat karsinogen, polusi udara, dan pengaruh genetik . WHO 2023 Merokok tembakau (termasuk rokok, cerutu, dan pipa) merupakan faktor risiko utama kanker paru-paru, tetapi juga dapat memengaruhi orang yang bukan perokok. Faktor risiko lainnya termasuk paparan asap rokok orang lain, bahaya pekerjaan (seperti asbes, radon, dan bahan kimia tertentu), polusi udara, sindrom kanker turunan, dan penyakit paru kronis sebelumnya.


Gejala yang paling umum meliputi: batuk yang tak kunjung sembuh, nyeri dada,sesak napas, batuk berdarah (hemoptisis), kelelahan,penurunan berat badan tanpa diketahui penyebabnya,Infeksi paru-paru yang terus kambuh. Gejala awal mungkin ringan atau dianggap sebagai masalah pernapasan umum, sehingga menyebabkan keterlambatan diagnosis. Sebab kanker paru-paru merupakan penyakit yang mematikan karena sulit  dideteksi sebelum menjadi penyakit yang serius. Banyak orang yang terdiagnosis  kanker paru terlambat mencari bantuan dikarenakan tidak menyadari gejala yang dialaminya, karena pada stadium awal sering terjadi tanpa gejala . Sekitar 85% kanker paru-paru baru bisa terdeteksi pada stadium  lanjut . Kanker paru juga tidak dapat dilihat tanpa CT scan atau  rontgen dada. Sebagian besar kasus kanker paru menyerang orang berusia antara 35 dan 75 tahun, dengan insiden tertinggi antara 55 dan 65 tahun .


Untuk mengurangi risiko terkena kanker paru, disarankan menyesuaikan asupan makanan dengan memperbanyak jumlah sayur dan buah, nutrisi yang terkandung dalam sayuran dan buah-buahan secara positif dapat mencegah pembentukan sel kanker, karena adanya vitamin, mineral, dan serat yang terkandung di dalamnya . WHO 2023 mempromosikan strategi pencegahan kanker dengan menganjurkan gaya hidup sehat, termasuk aktivitas fisik rutin, pola makan sehat, dan meminimalkan paparan faktor risiko lingkungan. Selain itu, WHO mendukung program deteksi dini dan mendorong negara-negara untuk menerapkan langkah-langkah skrining bagi populasi berisiko tinggi untuk mendeteksi kanker paru-paru pada tahap awal saat pilihan pengobatan lebih efektif. Metode skrining utama untuk kanker paru-paru adalah tomografi terkomputasi dosis rendah (LDCT).

Pada kasus kanker paru, kelompok berisiko yakni mereka yang berusia di atas 45 tahun dan termasuk perokok aktif serta pasif, berusia 40 tahun dengan riwayat kanker paru di keluarga serta paparan industri tertentu. Salah satu usaha pada orang yang belum bergejala tetapi dia berisiko tinggi maka skrining dilakukan dengan CT-scan low dose setiap 2 (dua) tahun sekali atau sesuai rekomendasi dokter. Deteksi dini disarankan untuk dilakukan pada mereka dengan faktor risiko dan sudah bergejala. Tanda dan gejala ini antara lain batuk berkepanjangan, batuk berdarah, sesak napas, nyeri dada, suara serak, berat badan turun tanpa sebab jelas, sakit tulang dan kepala.


Sesuai kondisi klien dan rekomendasi dokter terdiri dari:
1. Pembedahan
2. Kemoterapi
3. Radioterapi
4. Imunoterapi.

KANKER PROSTAT

Kelenjar prostat merupakan organ seukuran buah kenari yang berada di dasar kandung kemih laki-laki.  Prostat memiliki panjang kurang lebih 1,25 inci (3 cm) dan letaknya berada di antara collum vesicae di bagian atas dan diaphragm urogenitale di bagian bawah.  Berat normal prostat berkisar antara 15-20 gr dan secara histologi terbagi atas tiga zona diferensiasi antara lain zona perifer, zona transisi, dan zona sentral.  Peran utama kelenjar prostat adalah menyekresi cairan encer, seperti susu dengan komposisi berupa kalsium, ion fosfat, ion sitrat, profibrinolisin, dan enzim pembekuan.  Kanker prostat merupakan keganasan yang paling umum terjadi pada lakilaki setelah kanker paru-paru.  Jumlah kasus baru kanker prostat secara global mencapai 1.414.259 kasus dengan angka mortalitas mencapai 375.304 kasus sehingga menjadikannya sebagai lima besar penyebab kematian pada laki-laki pada tahun 2020. Perkiraan angka kejadian baru di Amerika Serikat mencapai 248.530 kasus dengan angka kematian mencapai 34.130 kasus. 6 Sedangkan di Indonesia prevalensi kasus kanker prostat sebanyak 42.772 kasus dengan 13.563 kasus baru dan 4.863 kasus kematian pada tahun 2020.

Prostat merupakan kelenjar yang berukuran seperti sebuah kenari yang berada dalam sistem reproduksi pria, yang tepatnya terletak diantara leher kandung kemih dan saluran kemih. Fungsi dari prostat adalah mengeluarkan cairan putih yang memberi nutrisi dan mengangkut sperma. Hormon dalam tubuh pria yang disekresi oleh testis secara langsung dapat mempengaruhi fungsi dan pertumbuhan prostat tersebut.

Kanker prostat adalah proliferasi tidak terkendali dari sel di dalam kelenjar prostat. Proliferasi tidak terkendali ini lebih disebabkan oleh beberapa faktor daripada faktor tunggal.

Faktor resiko yang mendasari terjadi kanker prostat antara lain faktor usia, riwayat penyakit keluarga, etnis/ras, serta faktor genetik.  Penderita kanker prostat lebih banyak ditemukan pada laki-laki berusia di atas 40 tahun dimana lebih dari dua pertiga penderita berusia lebih dari 65 tahun. Obesitas juga merupakan salah satu faktor resiko kanker prostat dimana kebanyakan penderita yang didiagnosis menderita kanker prostat dan penderita yang meninggal merupakan penderita yang overweight dan obesitas dengan penyakit agresif. Sebuah penelitian menunjukkan bahwa seseorang dengan IMT lebih dari 30 kg/m2 dapat dikaitkan dengan kanker prostat yang gradingnya lebih tinggi pada laki-laki dengan kanker prostat lokal . Usia sudah diyakini secara kuat sebagai salah satu faktor resiko terjadinya kanker prostat dan obesitas berperan dalam meningkatkan agresifitas kanker prostat.

Faktor penyebab Ca Prostate menurut WHO, 2012 antara lain : a. Usia. Setelah usia 40, insiden kanker prostat sangat meningkat. b. Etnis. Angka kejadian kanker prostat lebih tinggi terjadi pada orang engan keturunan asia dan pada orang berkulit hitam. c. Riwayat keluarga (genetik). Pria dengan ayah atau saudara laki-laki yang menderita kanker prostat memiliki resiko dua kali lipat untuk menderita kanker prostat. d. Diet, dan gaya hidup. Diet tinggi lemak jenuh, daging merah, rendah serat, rendah konsumsi tomat dan produknya, rendah konsumsi ikan dan kedelai dapat meningkatkan resiko kanker prostat.

Kanker prostat biasanya tidak memiliki tanda gejala yang menunjukkan adanya kanker. Terkadang, tanda dan gejala menyerupai Benign Prostate Hyperplasia (BPH), yaitu berupa kesulitan dalam berkemih atau sering berkemih. Kanker juga dapat menyebabkan air kemih berwarna merah atau menyebabkan terjadinya penahanan air kemih secara mendadak. Biasanya kanker prostat terdeteksi setelah kanker telah menglami metastase. Kanker prostat juga dapat menyebabkan nyeri pada tulang, dan tulang mengalami kerapuhan sehingga mudah mengalami patah tulang. Selain itu, kanker prostat juga dapat menyebabkan anemia, neurologis, ataupun gejala mental. Gejala lain yang dapat mengidentifikasi  kanker prostat adalah setelah BAK biasanya air kemih masih menetes, terasa nyeri saat berkemih, nyeri setelah ejakulasi, nyeri punggung bagian bawah, nyeri ketika BAB, sering BAK saat malam hari, sering BAK, nyeri tulang, air kencing mengandung darah, nyeri pada perut, dan penurunan berat badan.

 

Menurut P2TMN Kemenkes : Pencegahan kanker  dengan menjaga berat badan ideal, selalu aktif, cek pemeriksaan kesehatan secara berkala, kurangi konsumsi sodium dan minuman manis serta hindari makanan yang diasap atau dibakar.

Sedangkan dari mayoclinic.org  untuk mencegah kanker prostat dapat dilakukan dengan cara :

  1. Makanan sehat gizi seimbang dan pola makan rendah lemak
  2. Tingkatkan jumlah buah dan sayur
  3. Kurangi jumlah produk olah susu dan lemak hewani
  4. Pertahankan berat badan Ideal
  5. Olah raga
  6. Hindari Merokok

Sesuai kondisi pasien dan jenis penanganan yang dilakukan dokter antara lain :
1. Operasi prostat
2. Radiasi
3. Kemoterapi
4. Terapi Hormon dan Krioterapi

Daftar Pustaka