Tekanan Darah Tinggi (hipertensi) adalah suatu peningkatan tekanan darah di dalam arteri. 

Pada pemeriksaan tekanan darah akan didapat dua angka. Angka yang lebih tinggi diperoleh pada saat jantung berkontraksi (sistolik), angka yang lebih rendah diperoleh pada saat jantung berelaksasi (diastolik). Hipertensi adalah suatu keadaan dimana tekanan darah sistolik pada tubuh seseorang lebih dari atau sama dengan 140 mmHg dan atau tekanan darah diastolik lebih dari atau sama dengan 90 mmHg. Pada tekanan darah tinggi, biasanya terjadi kenaikan tekanan sistolik dan diastolik.

Tekanan darah dalam kehidupan seseorang bervariasi secara alami. Bayi dan anak-anak secara normal memiliki tekanan darah yang jauh lebih rendah daripada dewasa. Tekanan darah juga dipengaruhi oleh aktivitas fisik, dimana akan lebih tinggi pada saat melakukan aktivitas dan lebih rendah ketika beristirahat. Tekanan darah dalam satu hari juga berbeda; paling tinggi di waktu pagi hari dan paling rendah pada saat tidur malam hari.  

Kriteria tekanan darah, menurut P2PTM Kemenkes:

Faktor Risiko terjadinya hipertensi antara lain:

  1. Pola makan yang tidak sehat (Konsumsi garam berlebihan, pola makan tinggi lemak jenuh dan lemak trans, asupan buah dan sayuran yang rendah)
  2. Kurang aktivitas fisik
  3. Konsumsi tembakau dan alkohol, dan
  4. Kelebihan berat badan atau obesitas
  5. Stres cenderung menyebabkan kenaikan tekanan darah untuk sementara waktu
  6. Usia lebih tua (lansia tekanan darah cenderung tinggi)
  7. Genetik (riwayat keluarga darah tinggi)
  8. Penyakit penyerta (diabetes, penyakit ginjal)

Pada beberapa penderita, hipertensi tidak menimbulkan gejala; tetapi beberapa gejala yang dapat terjadi bersamaan dan  berhubungan dengan tekanan darah tinggi:

  1. Sakit kepala
  2. Kaku pada area tengkuk leher
  3. Mual
  4. Muntah
  5. Penglihatan kabur atau perubahan penglihatan lainnya
  6. Pusing
  7. Sulit bernafas
  8. Sulit tidur
  9. Kecemasan
  10. Kebingungan
  11. Berdengung di telinga
  12. Mimisan
  13. Nyeri dada
  14. Irama jantung yang tidak normal

Komplikasi yang dapat terjadi pada penderita hipertensi sebagai berikut:

  1. Kerusakan jantung/ gagal jantung, serangan jantung
  2. Stroke
  3. Kerusakan ginjal/ gagal ginjal.

 

Apa yang sebaiknya dilakukan jika mengalami  hipertensi:

  1. Modifikasi gaya hidup dengan rutin sendiri dapat mengurangi hingga 15% kejadian komplikasi pada hipertensi.
  2. Olahraga teratur setidaknya minimal 30 menit setiap hari atau 150 menit per minggu. Olahraga yang dapat dilakukan seperti senam aerobik, jalan atau berlari, bersepeda, serta berenang
  3. Menjaga berat badan ideal dengan cara mengatur pola makan yang sehat dengan konsumsi makanan seimbang, menghindari makanan tinggi garam, lemak jenuh dan kolesterol. Membatasi konsumsi garam tidak melebihi 1 sendok teh per hari. Memperhatikan atau membatasi makanan cepat saji juga perlu dilakukan, karena makanan cepat saji umumnya memiliki kandungan garam yang cukup tinggi
  4. Konsumsi buah – buahan segar, sayuran, ikan, serta penggunaan minyak olive juga disarankan. Konsumsi kopi tanpa gula, teh hijau atau teh hitam juga dapat dilakukan
  5. Menghindari kebiasaan merokok serta paparan terhadap asap rokok (perokok pasif)
  6. Menghindari konsumsi alkohol

Dalam pengelolaan tekanan darah tinggi atau hipertensi, terdapat berbagai jenis obat yang digunakan untuk mencapai kontrol tekanan darah optimal. Beberapa di antaranya melibatkan penggunaan angiotensin converting enzyme inhibitors (ACEI), angiotensin receptor blockers (ARB), beta-blockers, calcium channel blockers (CCB) dihydropyridine dan non-dihydropyridine, serta diuretik thiazide atau thiazide-like. Berikut  beberapa  obat antihipertensi beserta contoh obat dalam masing-masing kategori dan mekanisme kerjanya.

  1. Inhibitor enzim pengubah angiotensin (ACEI) seperti captopril dan lisinopril bekerja dengan menurunkan tekanan darah melalui melebarkan arteri. Mereka menghambat enzim yang mengubah angiotensin I menjadi angiotensin II, suatu zat yang menyebabkan penyempitan pembuluh darah.
  2. Blokir reseptor angiotensin (ARB) seperti candesartan dan valsartan juga berkontribusi pada penurunan tekanan darah. ARB bekerja dengan menghambat efek angiotensin II pada reseptor, mengakibatkan pelebaran pembuluh darah dan penurunan resistensi vaskular.
  3. Beta-blocker seperti bisoprolol, atenolol, dan propanolol bekerja dengan menghambat efek sistem saraf simpatis, yang berperan dalam meningkatkan denyut jantung dan tekanan darah. Ini membantu menurunkan beban kerja jantung dan menurunkan tekanan darah.
  4. Penghambat saluran kalsium dihydropyridine (CCB) seperti amlodipine dan nifedipine bekerja dengan melebarkan arteri, mengurangi resistensi pembuluh darah, dan akhirnya menurunkan tekanan darah. Sementara itu, penghambat saluran kalsium non-dihydropyridine seperti diltiazem dan verapamil juga memberikan efek negatif inotropik pada jantung, mengurangi kecepatan dan kekuatan kontraksi jantung.
  5. Diuretik seperti hydrochlorothiazide dan indapamide membantu mengurangi tekanan darah dengan meningkatkan pengeluaran garam dan air melalui urine. Hal Ini akan mengurangi volume cairan di dalam tubuh, mengurangi beban cairan dan akhirnya menurunkan tekanan darah.

Penting untuk dicatat bahwa pemilihan obat anti hipertensi harus disesuaikan dengan kondisi kesehatan individu dan harus diberikan dan di bawah pengawasan dokter.

Deteksi dini risiko hipertensi dengan aplikasi e-Desi yang dapat diakses di https://dinkes.jatimprov.go.id/e-desi/public/
Catatan: e-Desi Dikhususkan Hanya untuk Warga Jawa Timur

Daftar Rujukan

  1. Iqbal AM, Jamal SF. Essential Hypertension. [Updated 2022 Jul 4]. In: StatPearls [Internet]. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2023 Jan-. Available from: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK539859/
  2. Mengenal Penyakit Hipertensi [Internet]. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia; 2023 [cited; 2023, July 19]. Available from: https://upk.kemkes.go.id/new/mengenal-penyakit-hipertensi
  3. Williams B, Mancia G, Spiering W, Agabiti Rosei E, Azizi M, Burnier M, et al. 2018 ESC/ESH Guidelines for the management of arterial hypertension. European Heart Journal. 2018;39(33):3021–104.