Suatu penyakit menahun yang ditandai oleh kadar glukosa darah yang melebihi nilai normal secara menahun. Sebutan glukosa darah sering dikenal oleh masyarakat dengan gula darah. Diabetes melitus merupakan penyakit metabolik yang ditandai dengan adanya kenaikan gula darah disebabkan oleh terganggunya hormon insulin yang memiliki fungsi untuk menjaga homeostasis tubuh dengan cara menurunkan kadar gula dalam darah.

JENIS PEMERIKSAAN KADAR GULA DARAH

  1. Pemeriksaan Gula Darah Sewaktu
    Pemeriksaan ini menunjukkan hasil yang lebih cepat ketimbang tes lainnya. Kekurangannya, cenderung kurang efektif karena mudah terpengaruh oleh banyak hal, seperti makanan.
    – Normal: Di bawah bawah angka 200 miligram per desiliter (mg/dL).
    – Prediabetes: Di antara 140 hingga 199 mg/dL.
    – Diabetes: Di atas 200 mg/dL.
  2. Pemeriksaan Gula Darah Puasa
    Pemeriksaan ini setelah 8–12 jam berpuasa, hanya boleh minum air putih dan wajib menghindari penggunaan suplemen atau multivitamin, alkohol, dan merokok.
    – Normal: Di bawah atau sama dengan 99 miligram per desiliter (mg/dL).
    – Prediabetes: Di antara 100 sampai 125 mg/dL.
    – Diabetes: Di atas 126 mg/dL.
  3. Pemeriksaan Gula Darah 2 Jam Setelah Makan
    Prosedur ini bertujuan untuk mengetahui sensitivitas hormon insulin dalam mengontrol gula darah. Pemeriksaan ini merupakan pemeriksaan lanjutan setelah cek gula darah puasa.
    – Bukan pengidap: Di bawah 140 mg/dL.
    – Pengidap diabetes: Di bawah 180 mg/dL.
  4. Tes toleransi glukosa oral (TTGO)
    Berpuasa selama 8 jam sebelum pemeriksaan. Setelah itu, minum cairan glukosa sebanyak 75 miligram. Kemudian dilakukan pemeriksaan TTGO 2 jam setelahnya.
    – Normal: Di atas atau sama dengan 140 miligram per desiliter (mg/dL).
    – Prediabetes: Di antara 140 sampai 199 mg/dL.
    – Diabetes: Di atas atau sama dengan 200 mg/dL.
  5. Tes HbA1c

    Bertujuan untuk mengukur rata-rata kadar gula darah dalam 3 bulan terakhir dengan mengevaluasi efektivitas pengobatan diabetes dan mendiagnosis diabetes melitus. Hasilnya akurat dan tidak terpengaruh oleh perubahan kadar gula darah sementara. Tidak dapat melakukan pemeriksaan jika pengidap baru menunjukkan gejala diabetes kurang dari 2 bulan.
    – Normal: Di bawah 42 mmol/mol (5.7%)
    – Pradiabetes: 42 hingga 47 mmol/mol (5.7 hingga 6.4%) 

    – Diabetes: 48 mmol/mol (6.5% atau lebih)

TIPE DIABETES

Dilihat dari jenisnya diabetes melitus dibedakan  menjadi 2 tipe yaitu diabetes melitus tipe 1 dan tipe 2, yang mana kasus diabetes melitus di seluruh dunia umumnya didominasi oleh diabetes melitus tipe 2. Penyakit ini seringkali disebabkan oleh faktor kurangnya aktivitas fisik dan pola makan yang tidak sehat. Terdapat berbagai tipe DM yang terdiri dari:

  1. DM tipe 1: DM yang disebabkan tidak adanya produksi insulin sama sekali.
  2. DM tipe 2: DM yang disebabkan tidak cukup dan tidak efektifnya kerja insulin.
  3. DM Gestasional: DM yang terjadi saat kehamilan.
  4. DM tipe lainnya: DM tipe lain yang disebabkan oleh pemakaian obat, penyakit lain-lain, dan sebagainya.

Ada 2 faktor pencetus diabetes, yakni: faktor yang tidak dapat dimodifikasi dan faktor yang dapat dimodifikasi.

  1. Faktor yang tidak dapat dimodifikasi
    a) Jenis kelamin
    b) Riwayat keluarga penderita DM
    c) Umur > 40 tahun
    d) Riwayat melahirkan bayi lebih 4000 g
    e) Bayi yang memiliki Berat Badan Lahir (BBL) < 2,5 kg
  2. Faktor yang dapat dimodifikasi
    a) Hipertensi/darah tinggi (>140/90 mmHg)
    b) Kegemukan (Berat badan lebih /IMT > 23 kg/m2) dan Lingkar Perut (Pria > 90 cm dan Perempuan >80cm)
    c) Kurang aktivitas fisik
    d) Dislipidemia (Kolesterol HDL laki-laki ≤ 35 mg/dL dan perempuan ≤ 45, trigliserida ≥ 250 mg/dL)
    e) Diet tidak sehat dan tidak seimbang (tinggi gula, garam, lemak dan rendah serat)
    f) Merokok/terpapar rokok

Gejala utama dan tambahan yang ditemukan pada diabetes :

  1. Gejala Utama (klasik)
    a) Sering Kencing (poliuri)
    b) Cepat Lapar (polipagi)
    c) Sering haus (polidipsi)
  2. Gejala tambahan
    a)Berat badan menurun cepat tanpa penyebab yang jelas.
    b) Kesemutan, Parestesia, mati rasa, atau nyeri, pada kaki lebih sering
    c) Gatal didaerah kemaluan wanita.
    d) Keputihan pada wanita.
    e) Luka sulit sembuh.
    f) Bisul yang hilang timbul.
    g) Penglihatan kabur.
    h) Cepat lelah.
    i) Mudah mengantuk.
    j) Impotensi pada pria

Aktivitas fisik yang kurang dan pola makan yang berlebihan akan mengakibatkan kadar gula darah dalam tubuh menjadi meningkat dan mempermudah timbulnya komplikasi.  Resiko komplikasi pada diabetes mellitus:

  1. Hipoglikemia (kadar gula darah di bawah normal Secara umum, seseorang terbilang mengalami kondisi hipoglikemia jika kadar gula darah kurang dari 60 mg/dL.)
  2. Hiperglikemi (kadar gula darah di atas normal umumnya ketika melebihi 140mg/dL atau mencapai 180-200mg/dL)
  3. Gangguan ginjal (nefropati)
  4. Gangguan penglihatan (retinopati)
  5. Neuropati (istilah yang digunakan untuk gejala gangguan atau penyakit pada saraf di tubuh. Gejala yang muncul bisa berupa nyeri, kesemutan, kram otot).
  6. Penyakit jantung dan pembuluh darah
  7. Disfungsi ereksi (ketidakmampuan untuk mendapatkan atau mempertahankan ereksi selama berhubungan seksual)

Diabetes melitus ini erat kaitannya dengan gaya hidup, maka dari itu berbagai kegiatan rutin sehari-hari memerlukan keseimbangan seperti makan, tidur, bekerja dan lain-lain. Jumlah, jenis makanan serta olahraga harus diatur dan tidak dapat diabaikan. Pada prinsipnya penderita diabetes melitus harus melakukan pengaturan pada pola makannya. Hal tersebut dapat dilakukan dengan memperhatikan jumlah kalori dan zat gizi yang dibutuhkan, jenis bahan makanan serta keteraturan jadwal makan. Untuk mengatasi diabetes dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut:

  1. Batasi makan makanan berikut
    Mengandung banyak gula sederhana, mengandung banyak lemak, makanan yang diolah dengan cara digoreng, fast food, makanan asin, makanan kaleng/diawetkan
  1. Memanfaatkan TOGA untuk membantu mengatasi DM
    Brotowali, kayu manis, pare, dan daun salam
  1. Terapi obat untuk DM

Atas rekomendasi dan di bawah pengawasan dokter:

  1. Glibenklamid 2,5 dan 5 mg/tab (sebelum makan)
  2. Glimepiride 1, 2, 3 dan 4 mg/tab (sebelum makan)
  3. Metformin (bersama/sesudah makan)
  4. Terapi insulin

Daftar Rujukan

  1. Direktorat Jenderal Kefarmasian dan Alat Kesehatan. 2019. Pedoman Pelayanan Kefarmasian pada Diabetes Mellitus. Jakarta Selatan: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia