Sleman – Guna menggalang komitmen lintas sektor, Dinas Kesehatan Sleman selenggarakan Seminar dalam rangka Hari Tuberkulosis Sedunia Kamis (31/3). Acara berlangsung secara blended yakni luring di Grand Serela Hotel dan Luring melalui Zoom Meeting dan Youtube Promkes Sleman. Narasumber dalam seminar melibatkan lintas profesi yakni dari IDI, HAKLI, PPNI, dan PPTI Cabang Sleman dengan menghadirkan peserta terbatas baik unsur programmer TB, kader, dan lembaga mitra penanggulangan TB. Dalam sambutannya, Kepala Bidang Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman, dr. Khamidah Yuliati, MMR menyampaikan bahwa TB masih menjadi perhatian penting disamping pandemi Covid-19. Bahkan data menunjukkan terjadi penurunan penemuan kasus pada tahun 2021. Penyebabnya adalah upaya penanggulangan TB berbasis masyarakat mengalami hambatan yang signifikan karena adanya pandemi Covid-19 yang melanda pada dua tahun terakhir ini. Hal ini turut diungkapkan oleh Bupati Sleman, Dra Kustini Sri Purnomo, dalam sambutannya secara daring. “Temuan kasus TB mencapai 61,18% ditahun 2019. Angka tersebut kemudian turun menjadi 33,36% ditahun 2020, dan 35,89% ditahun 2021” terang Kustini. 
Temuan kasus TB tersebut sejatinya belum mencapai target, disebabkan oleh dua hal yaitu pertama sebagaimana kondisi nasional, situasi pandemi juga menjadi tantangan dalam penemuan kasus TB di Kabupaten Sleman. Kedua, kesadaran masyarakat untuk segera memeriksakan diri bila terjadi kontak erat dari pasien TB masih rendah. “Pandemi juga menjadi tantangan dalam penemuan kasus TB di Kabupaten Sleman. Selain itu kesadaran masyarakat untuk segera periksa bila menjadi kontak erat dari pasien TB masih rendah”, sambungnya.
Menilik tingginya kasus serta potensi kematian yang disebabkan oleh TB atau Tuberkulosis ini, menjadikan dunia secara serempak berkomitmen untuk bebas TB ditahun 2050, termasuk Indonesia berkomitmen untuk membersihkan sekaligus menghentikan penularan TB di tahun 2030. Komitmen tersebut tentunya dapat tercapai dengan kerjasama seluruh pihak terkait, sebab penanggulangan TB tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah saja, melainkan semua pihak.
“Kami (Pemkab Sleman) menyadari betul bahwa komitmen untuk eliminasi TBC ditahun 2030 tidak hanya menjadi tugas dan tanggung jawab pemerintah saja dan tenaga kesehatan melainkan menjadi tanggung jawab semua stakeholder terkait yang ada di Kabupaten Sleman”, tegasnya.
Berbagai upaya diterapkan Pemkab Sleman membantu pemerintah pusat mewujudkan Indonesia bersih TB di tahun 2030, khususnya di wilayah Kabupaten Sleman. Diantaranya:
- Kampanye PERJAKA 2M (Perangi Gejala Batuk Kurang lebih 2 Minggu), yang merupakan strategi kampenye investigasi kontak untuk meningkatkan temuan kasus TBC di Kabupaten Sleman.
- Meningkatkan akses layanan pemeriksaan dan diagnosa TBC.
- Melengakapi seluruh Puskesmas dengan fasilitas dan sumber daya pemeriksaan BTA (Bakteri Tahan Asam).
- Menerapkan metode tes cepat molekuler yang tersebar di 6 fasilitas kesehatan di Kabupaten Sleman, yaitu RSUP Dr.Sardjito, RSUD Sleman, RSUD Prambanan, RSA UGM, dan Laboratorium Mikrobiologi UGM, serta Puskemas Ngemplak II. Dan pada tahun ini akan ditambah dengan Puskesmas Seyegan. Upaya tersebut dilakukan melalui berbagai strategi yang melibatkan lintas sektor serta upaya promosi kesehatan berbasis digital seperti yang tertuang dalam Peraturan Presiden Nomor 67 tahun 2021 tentang Penanggulangan Tuberkulosis .
Upaya tersebut tentunya dilakukan melalui berbagai strategi yang melibatkan lintas sektor serta upaya promosi kesehatan berbasis digital seperti yang tertuang dalam Peraturan Presiden Nomor 67 tahun 2021 tentang Penanggulangan Tuberkulosis. Dengan demikian Kabupaten Sleman optimis akan melangkah lebih maju eliminasi TBC ditahun 2030.
Disamping itu Bupati Sleman juga menambahkan jika berbagai strategi yang telah dilakukan Pemkab Sleman akan semakin optimal jika dibarengi dengan kampanye mengenai peningkatan kesadaran masyarakat terhadap bahaya TB, paya pencegahan sekaligus pengobatannya, serta dukungan dari para dokter, perawat, sanitarian serta seluruh kader TB di Kabupaten Sleman.
Dalam sesi diskusi, peserta baik daring maupun luring antusias terlihat dari banyaknya pertanyaan dan respon yang disampaikan. Selaku moderator, dr. Seruni Susila, yang juga selaku plt Kepala Seksi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular menerima setiap pertanyaan dan meneruskan kepada narasumber. Apresiasi diberikan kepada seluruh narasumber meliputi dr. Ahmad Fikri Syadzali, Sp.P dari Rumah Sakit Akademik UGM, RR Sri Arini Winarti R, SKM.,M.Kep dari Poltekkes Kemenkes Yogyakarta, Siti Nurhayah Isfandiari, SKM.,MPH dari HAKLI, dan Dulzaeni, S.Kep. dari PPTI Sleman. Agenda acara diakhiri dengan penyerahan hadiah lomba photo caption dan kader TB pilihan Kabupaten Sleman serta doorprize bagi peserta aktif.




