Visualisasi Data Kesehatan Bantu Identifikasi Masalah dan Percepat Respons Layanan

Harriyandonni Agung Imam Saputro, S.K.M. menyampaikan materi mengenai visualisasi data kesehatan dalam Bimbingan Teknis Visualisasi Data Kesehatan di Gedung MPP Kabupaten Sleman. (Foto: Dokumentasi Dinkes Sleman)

Sleman – Di balik setiap kebijakan kesehatan yang tepat, terdapat data yang diolah dan dianalisis dengan baik. Agar informasi kesehatan dapat dimanfaatkan secara optimal, Tim Kerja Perencanaan dan Evaluasi Sekretariat Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman menyelenggarakan Bimbingan Teknis (Bimtek) Visualisasi Data Kesehatan pada Selasa (14/7/2026) di Ruang Rapat Sahitya, Gedung Mal Pelayanan Publik Kabupaten Sleman. Kegiatan ini diikuti oleh 50 peserta yang terdiri atas perwakilan tim kerja, perwakilan puskesmas dan UPTD, serta Tim Kerja Perencanaan dan Evaluasi.

Kegiatan dibuka oleh Rusita Nurwidi Astuti, S.KM., M.P.H., Ketua Tim Kerja Perencanaan dan Evaluasi Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman. Dalam arahannya, ia menyampaikan bahwa data kesehatan yang diolah dan disajikan secara baik menjadi dasar penting dalam perencanaan program, evaluasi, serta pengambilan kebijakan yang tepat sasaran. Oleh karena itu, peningkatan kapasitas sumber daya manusia dalam mengelola dan memvisualisasikan data perlu terus dilakukan seiring dengan perkembangan teknologi informasi.  

Bimbingan teknis menghadirkan Harriyandonni Agung Imam Saputro, S.K.M. sebagai narasumber. Dalam pemaparannya, ia menjelaskan bahwa visualisasi data bukan sekadar membuat grafik atau dashboard, melainkan mengubah data yang kompleks menjadi informasi yang mudah dipahami sehingga dapat mendukung pengambilan keputusan.

“Visualisasi data adalah jembatan antara data dan pengambilan keputusan. Ketika data disajikan dalam bentuk yang tepat, informasi akan lebih mudah dipahami dan dimanfaatkan untuk menentukan langkah yang akan diambil,” jelas Harriyandonni.

Ia juga mengungkapkan bahwa tantangan pengelolaan data kesehatan saat ini bukan pada jumlah data, melainkan bagaimana data tersebut diolah menjadi informasi yang bernilai. Menurutnya, data yang masih tersimpan dalam format statis, seperti Excel atau PDF, sering kali memperlambat proses analisis sehingga respons terhadap permasalahan kesehatan menjadi kurang optimal.

“Data kesehatan kita sangat banyak. Tantangannya adalah bagaimana data tersebut dapat diolah menjadi informasi yang mudah dibaca sehingga mampu menghasilkan insight dan mendukung keputusan yang cepat serta berbasis bukti,” ujarnya.

Pada sesi praktik, peserta mempelajari penggunaan Tableau untuk membuat dashboard interaktif dan peta sebaran kasus kesehatan. Melalui visualisasi tersebut, data dapat dianalisis hingga tingkat desa atau kecamatan sehingga memudahkan identifikasi wilayah yang membutuhkan intervensi lebih cepat.

“Visualisasi yang baik akan membantu kita menjawab pertanyaan penting, seperti di mana kasus terkonsentrasi, kapan tren meningkat, dan siapa kelompok yang paling berisiko. Dari situ, program kesehatan bisa dirancang lebih tepat sasaran,” terang Harriyandonni.

Melalui peningkatan kapasitas ini, peserta diharapkan mampu mengolah data kesehatan menjadi informasi yang lebih komunikatif dan mudah dipahami. Dengan demikian, proses perencanaan program, pemantauan, hingga pengambilan kebijakan dapat dilakukan secara lebih cepat, berbasis bukti, dan berorientasi pada kebutuhan masyarakat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *