Biji Kecambah, “Langkah Kecil Untuk Perubahan Besar”

Biji Kecambah adalah sebuah brand inovasi pelayanan kesehatan yang komprehensif bagi Orang Dengan gangguan Jiwa (ODGJ) di Puskesmas Mlati II. Biji Kecambah ini merupakan singkatan dari Rehabilitasi Jiwa dengan kenali dan cegah kekambuhan. Makna filosofis dari Biji Kecambah yaitu: Biji Kecambah adalah awal dari sebuah kehidupan. Biji Kecambah merupakan proses perubahan dari sebuah biji menjadi kecambah. Proses ini bisa dimaknai sebagai sebuah transformasi dari kebermanfaatan di suatu bentuk menjadi kebermanfaatan di bentuk yang lain. Langkah kecil untuk perubahan besar dimaknai bahwa kegiatan ODGJ ini merupakan kegiatan yang sederhana, namun bisa berdampak besar bagi diri, keluarga dan masyarakat, tidak hanya saat ini tapi juga untuk kehidupan selanjutnya.

 Inovasi ini dilatarbelakangi oleh hasil Riset kesehatan dasar tahun 2013 maupun tahun 2018 yang menyatakan bahwa jumlah ODGJ di daerah Istimewa Yogyakarta menempati peringkat I di Indonesia. Data Orang Dengan Gangguan JIwa (ODGJ) di Kabupaten Sleman tahun 2017 dan 2018 sebanyak 4.230 orang dari total jumlah penduduk di Sleman sebanyak 1,1 juta orang. Data ODGJ  di wilayah kerja Puskesmas Mlati II tahun 2017 adalah 127 orang dari total jumlah penduduk 37.000 jiwa, atau bisa dikatakan angka gangguan jiwa adalah 3,4 per mil yang artinya setiap 1000 penduduk ada 3 sampai 4 ODGJ. angka ini lebih tinggi 2kali lipat dari angka nasional.

Tingginya angka ODGJ menuntut Puskesmas untuk melakukan penanganan yang efektif. Pada tahun 2016, penanganan ODGJ di Puskesmas Mlati II masih terbatas pada kegiatan  penyuluhan dan pengobatan saja.  Namun ternyata, masih ditemukan ODGJ yang sering kambuh walaupun sudah melakukan pengobatan secara rutin. Hal ini disebabkan ODGJ tidak memiliki banyak kegiatan sehingga sering melamun, halusinasi serta waham menjadi lebih kuat.

Data ODGJ di Kecamatan Mlati khususnya Desa Tlogoadi, Sumberadi, Tirtoadi yang merupakan wilayah kerja Puskesmas Mlati II tahun 2017 adalah 127 orang. Berdasarkan hasil kunjungan petugas Puskesmas ke rumah-rumah penduduk dalam Program Indonesia Sehat dengan Pendekatan Keluarga (PIS-PK) didapatkan informasi hanya 32% dari individu dengan diagnosa gangguan jiwa mendapatkan pengobatan secara rutin, artinya lebih dari separuh (68%) ODGJ belum berobat secara teratur.  Hal ini menjadi permasalahan besar di masyarakat.

Permasalahan kesehatan jiwa bukanlah masalah sederhana, Penanganan dengan  pengobatan secara kuratif saja tidaklah cukup. ODGJ perlu mendapatkan dukungan keluarga dan masyarakat agar pengobatan dapat berjalan secara teratur dan meminimalkan kemungkinan terjadinya kekambuhan.

Permasalahan sebelum inovasi:

  1. Pengelolaan ODGJ baru sebatas pencegahan dan pengobatan, belum melakukan upaya rehabilitasi pada ODGJ yang telah stabil dan menjalani pengobatan rutin
  2. ODGJ sering kambuh karena tidak ada kegiatan dan pengobatan rutin
  3. Keluarga belum cukup paham pendampingan ODGJ agar tetap stabil
  4. Pemahaman masyarakat bahwa masalah kesehatan jiwa hanya menjadi tugas puskesmas
  5. Temuan ODGJ belum pengobatan sebesar 68%

 

Permasalahan yang ada terkait penanganan ODGJ :

  1. Pengelolaan ODGJ baru sebatas pencegahan dan pengobatan
  2. ODGJ sering kambuh karena tidak ada kegiatan dan pengobatan rutin
  3. Keluarga belum paham pendampingan ODGJ
  4. Stigma ODGJ tinggi, ODGJ hanya menjadi tanggung jawab Puskesmas

 

Berdasarkan permasalahan yang ada, dr. Evita Setianingrum, MPH, Kepala Puskesmas Mlati 2 sebagai pemberi pelayanan kesehatan tingkat pertama, mempunyai inovasi dalam penanganan ODGJ. Inovasi ini berawal pada tahun 2017, upaya pengelolaan ODGJ lebih komprehensif selain pengobatan juga rehabilitasi serta pelatihan bagi masyarakat untuk menghilangkan stigma negatif terhadap ODGJ. Kegiatan  rehabilitasi psikososial meliputi kegiatan pengolahan lahan, keterampilan membuat kompos, dan keterampilan membuat telur asin. Pada beberapa pertemuan disisipi kegiatan refreshing dengan senam bersama karyawan dan mengecat gerabah.

Program inovasi ini melibatkan tim kesehatan jiwa masyarakat dan lintas sektor untuk bersama-sama berpartisipasi dalam peningkatan kesehatan jiwa di masyarakat. Program  ini melibatkan berbagai kelompok sasaran, yaitu ODGJ, keluarga ODGJ, dukuh, tokoh masyarakat, dan lintas sektor. Rehabilitasi ini efektif sebagai upaya mencegah terjadinya kekambuhan pada ODGJ, meningkatkan keteraturan dalam pengobatan, meningkatkan dukungan dari keluarga, dan mengurangi stigma negatif masyarakat dapat dilihat dalam vidio berikut Link

Program inovasi ini digagas untuk memfasilitasi kebutuhan ODGJ terkait aktivitas rutin, pemantauan pengobatan, dan meningkatkan keterampilan psikososial ODGJ. Bahwa kesehatan dan kesejahteraan merupakan hak semua orang di segala usia, termasuk ODGJ. Inovasi pelayanan publik ini memberikan perhatian dan memastikan bahwa ODGJ mendapatkan pelayanan kesehatan sesuai standar dan bahkan memiliki kesempatan untuk menjalani kehidupan sehari-hari dengan lebih layak. Dengan memberikan kesempatan kepada ODGJ untuk mendapatkan pengobatan dan pelayanan kesehatan sesuai standar, mendapatkan keterampilan untuk bekerja maupun berelasi dengan lingkungan akan mendorong terciptanya masyarakat yang inklusif serta menerima seluruh anggota masyarakat lebih positif.

Setelah kegiatan inovasi Biji Kecambah yang dilakukan di Puskesmas Mlati II, manfaat yang didapat yaitu :

  1. Selama menjalani proses rehabilitasi (1 tahun 2 bulan), kondisi ODGJ sangat stabil dan tidak terjadi kekambuhan
  2. Ada perubahan yang signifikan dan lebih baik dalam aspek perhatian, fungsi motorik dan ekspresi, komunikasi, dan fungsi eksekutif (ide untuk mengambil keputusan) pada ODGJ peserta kegiatan rehabilitasi.
  3. ODGJ menjalani pengobatan secara rutin dan kooperatif dalam menjalani pengobatan oral maupun injeksi.
  4. ODGJ memiliki keterampilan bekerja maupun keterampilan komunikasi yang bisa diterapkan di kehidupan sehari-hari. Bekal keterampilan yang didapat dari mengikuti rehabilitasi di Puskesmas dapat dikembangkan di rumah maupun bekerja di tempat lain.
  5. Keluarga semakin paham bagaimana mendukung dan mendampingi anggota keluarganya yang mengalami gangguan jiwa
  6. Dukungan dan keterlibatan lintas sektor menunjukkan adanya penerimaan positif dari masyarakat dan menurunnya stigma terhadap ODGJ. Hal ini menjadi faktor dukungan yang penting untuk mengurangi kemungkinan kekambuhan pada ODGJ.

 

Nilai inovatif dari program inovasi ini adalah Pelayanan ODGJ yang Komprehensif, meliputi pelayanan kuratif (pengobatan) dan  rehabilitatif (proses pengembalian pada fungsinya).

 

Pelayanan Kuratif dilakukan dengan :

  1. Pengobatan dan konsultasi dengan dokter bagi ODGJ di Puskesmas
  2. Pengobatan melalui isuntik 1 bulan sekali bagi ODGJ yang kurang bisa pengobatan oral secara rutin
  3. Family gathering untuk keluarga pasien ODGJ

Pelayanan Rehabilitatif dilakukan dengan :

  1. Terapi okupasi : bercocok tanam, membuat telur asin, membuat kompos organik
  2. Terapi aktivitas kelompok : mengenali tanda kekambuhan, keteraturan minum obat, pengelolaan terhadap halusinasi yang muncul
  3. Rehabilitasi psikososial : latihan keterampilan sosial, mengelola emosi dan tampil lebih percaya diri

Inovasi Biji Kecambah merupakan adaptasi dari program rehabilitasi yang biasa dilakukan di rumah sakit. Program rehabilitasi yang biasanya disediakan di rumah sakit untuk pasien ODGJ diadaptasi di Puskesmas Mlati II dengan menyesuaikan kondisi ODGJ, minat ODGJ, dan ketersediaan fasilitas di Puskesmas. Kegiatan rehabilitasi yang menyesuaikan dengan kondisi dan minat ODGJ bertujuan agar ODGJ terus mau hadir dan mengikuti kegiatan rehabilitasi. Sementara itu, kegiatan rehabilitasi yang menyesuaikan ketersediaan fasilitas Puskesmas bertujuan untuk memastikan keberlanjutan program ini.

Hasil evaluasi pelaksanaan inovasi biji kecambah telah memberikan dampak yang signifikans, antara lain :

  1. ODGJ yang mengikuti program rehabilitasi menunjukkan kondisi yang stabil. Selama 1 tahun 2 bulan tidak kambuh dan minum obat rutin dengan kooperatif.
  2. Keluarga lebih paham mendampingi ODGJ agar tetap stabil
  3. Penerimaan petugas kesehatan dan masyarakat membuktikan stigma terhadap ODGJ berkurang
  4. ODGJ tetap terjaga kesehatannya dengan pelayanan komprehensif
  5. IKM terus meningkat dari tahun 2016 sampai 2018

Pelajaran yang dapat dipetik dari inovasi ini adalah : Inovasi Biji Kecambah yang dilaksanakan di Puskesmas Mlati II ini merupakan salah satu bentuk upaya untuk meningkatkan kesehatan jiwa di masyaraka, terutama kelompok ODGJ. Pembelajaran yang didapatkan selama pelaksanaan inovasi Biji Kecambah diantaranya :

  1. Cara pandang dan sikap petugas kesehatan dan Puskesmas yang inklusif dalam pengelolaan ODGJ dan peningkatan kesehatan jiwa di masyarakat menjadi poin kunci dalam inovasi ini.
  2. Kerjasama lintas program dan lintas sektor
  3. Penerapan pelayanan yang bermutu, sesuai dengan komitmen Puskesmas dalam menerapkan komitmen sebagai Puskesmas yang terakreditasi Paripurna
  4. Perubahan stigma masyarakat tentang ODGJ

RAGAM KEGIATAN

Penjualan Produk Hasil Kegiatan Biji Kecambah pada Acara Gebyar UkM Puskesmas Mlati II tanggal 1 November 2019.

 

Data penulis :

Nama                   : dr. Evita Seyaningrum, MPH

Jabatan               : Kepala Puskesmas Mlati II

Alamat Kantor   : Puskesmas Mlati II, Cabakan Sumberadi, Mlati, Sleman, Yogyakarta

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *