Bangun Kepemimpinan yang Lebih Adaptif, Kepala Puskesmas Ikuti Pelatihan ESQ

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman, dr. Cahya Purnama, M.Kes, memberikan arahan pada kegiatan Bimtek Leadership berbasis ESQ bagi kepala puskesmas se-Kabupaten Sleman.

Sleman – Di balik layanan kesehatan yang berjalan setiap hari, terdapat peran kepemimpinan yang menentukan arah, suasana kerja, dan kualitas pelayanan di puskesmas. Untuk memperkuat peran tersebut, Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman menggelar pelatihan kepemimpinan berbasis Emotional Spiritual Quotient (ESQ) bagi para kepala puskesmas se-Kabupaten Sleman pada Kamis (9/4/2026) di Crystal Lotus Hotel Yogyakarta.

Sebanyak 28 kepala puskesmas dan UPTD di lingkungan Dinas Kesehatan Sleman mengikuti kegiatan ini, khususnya bagi yang baru menjabat maupun yang membutuhkan penguatan kapasitas dalam mengelola tim dan dinamika pelayanan kesehatan. Pelatihan ini dirancang untuk membekali peserta dengan kemampuan kepemimpinan yang tidak hanya kuat secara manajerial, tetapi juga matang dalam pengelolaan emosi dan nilai-nilai spiritual.

Kegiatan dibuka secara resmi oleh Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman, dr. Cahya Purnama, M.Kes. Dalam sambutannya, ia menekankan bahwa kepemimpinan di puskesmas memiliki peran strategis dalam menjaga kualitas pelayanan kepada masyarakat. “Kepala puskesmas tidak hanya bertugas mengelola layanan, tetapi juga harus mampu membangun semangat tim, menjaga keseimbangan emosi, serta menjadi teladan di lingkungan kerja,” ujarnya.

Pelatihan menghadirkan narasumber berpengalaman di bidang kepemimpinan dan komunikasi, yaitu Erik Hadi Saputra, S.Kom., M.Eng, Wakil Dekan II Fakultas Ekonomi & Sosial serta Direktur Kehumasan & Urusan Internasional Universitas Amikom Yogyakarta, sekaligus trainer, coach, dan motivator; serta Nenggih Wahyuni, S.IP., M.A., trainer leadership dan komunikasi yang juga menjabat sebagai Kepala Bagian Perencanaan dan Evaluasi RS Akademik Universitas Gadjah Mada.

Materi disampaikan melalui metode partisipatif dan interaktif, mulai dari diskusi, refleksi diri, hingga studi kasus dan simulasi kepemimpinan. Pendekatan ini memberikan ruang bagi peserta untuk tidak hanya memahami konsep, tetapi juga mengaitkannya dengan pengalaman serta tantangan yang dihadapi dalam praktik sehari-hari.

Salah satu narasumber, Erik Hadi Saputra, menyampaikan bahwa kepemimpinan berbasis ESQ menekankan keseimbangan antara kecerdasan emosional dan nilai-nilai spiritual dalam pengambilan keputusan. “Pemimpin yang mampu mengelola emosi dan membangun energi positif akan lebih mudah menciptakan kerja sama tim yang solid dan lingkungan kerja yang sehat,” jelasnya. Ia juga menyinggung konsep Motivated Forgetting Theory yang menyatakan bahwa memori sangat dipengaruhi oleh persepsi dan pengalaman, serta cenderung menyisakan jejak tertentu dalam pikiran seseorang.

Mengacu pada pemikiran Sigmund Freud, seseorang cenderung berusaha melupakan peristiwa yang buruk, tidak menyenangkan, atau menyakitkan, dan lebih memilih mengingat pengalaman yang membahagiakan. Hal ini menjadi bagian penting dalam memahami bagaimana emosi dan pengalaman memengaruhi pola pikir serta perilaku seseorang, termasuk dalam konteks kepemimpinan.

Melalui pelatihan ini, para kepala puskesmas diharapkan semakin mampu mengelola tekanan kerja, meningkatkan kesadaran diri sebagai pemimpin, serta membangun komunikasi yang efektif dalam tim. Dengan kepemimpinan yang lebih kuat dan adaptif, pelayanan kesehatan di tingkat puskesmas diharapkan dapat berjalan lebih optimal dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *