Partisipasi Sosial dan Kemandirian menjadi kunci hadapi Tantangan Kesehatan Era Modern

Dr. Arie Sujito saat menyampaikan materi dalam kegiatan AKSI SEHAT Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman di Griya Persada Hotel & Convention.

Sleman – Upaya meningkatkan derajat kesehatan masyarakat terus diperkuat melalui kegiatan AKSI SEHAT yang diselenggarakan Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman pada Kamis – Jumat, 12 – 13 Februari 2026 di Griya Persada Hotel & Convention. Kegiatan ini menghadirkan Dr. Arie Sujito, Sosiolog Universitas Gadjah Mada, yang menyampaikan pentingnya partisipasi sosial sebagai fondasi dalam menghadapi berbagai tantangan kesehatan saat ini.

Dalam pemaparannya, Dr. Arie menjelaskan bahwa kesehatan merupakan hak dasar yang harus menjadi perhatian bersama, tidak hanya pemerintah tetapi juga masyarakat. “Kesehatan adalah isu publik yang membutuhkan tanggung jawab bersama, baik dari negara maupun warga,” ujarnya.

Ia menyoroti bahwa tren peningkatan kasus hipertensi, diabetes, dan penyakit kardiovaskular pada usia muda menjadi peringatan penting akibat gaya hidup yang tidak sehat. Selain itu, tantangan global seperti krisis iklim, polusi udara, serta resistensi antibiotik juga berpotensi memperburuk kondisi kesehatan masyarakat jika tidak diantisipasi secara serius. “Perubahan gaya hidup dan tekanan lingkungan menjadi faktor yang tidak bisa diabaikan dalam melihat persoalan kesehatan hari ini,” tambahnya.

Menurutnya, penguatan partisipasi sosial menjadi salah satu strategi utama dalam menjawab berbagai tantangan tersebut. “Kesehatan tidak bisa hanya bergantung pada layanan, tetapi harus tumbuh dari kesadaran dan partisipasi masyarakat itu sendiri, sehingga muncul kemandirian dalam menjaga kesehatan,” ungkapnya.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa partisipasi sosial dapat diwujudkan melalui keterlibatan aktif masyarakat dalam perencanaan, pelaksanaan, hingga evaluasi program kesehatan. Peran tokoh masyarakat, kader kesehatan, serta keluarga menjadi penting dalam membangun rasa memiliki terhadap program kesehatan yang dijalankan. “Ketika masyarakat merasa memiliki program, maka keberlanjutan dan dampaknya akan jauh lebih kuat,” jelasnya.

Pendekatan kolaboratif juga ditekankan melalui model penta-helix yang melibatkan pemerintah, akademisi, sektor swasta, media, dan masyarakat. Sinergi ini dinilai mampu memperkuat kapasitas sistem kesehatan, sekaligus mendorong inovasi dan keberlanjutan program di tingkat lokal. “Kolaborasi lintas sektor adalah kunci untuk menjawab kompleksitas masalah kesehatan saat ini,” tegasnya.

Selain itu, penguatan kelembagaan di tingkat desa seperti puskesmas, posyandu, dan poskesdes menjadi ujung tombak dalam pelayanan kesehatan berbasis komunitas. Dengan dukungan jaringan kader dan koordinasi lintas sektor, diharapkan upaya promotif dan preventif dapat berjalan lebih optimal.

Kegiatan ini juga diikuti oleh peserta lintas sektor yang terdiri dari unsur Pemerintah Kabupaten Sleman, perangkat daerah, instansi vertikal, aparat keamanan, fasilitas pelayanan kesehatan, serta mitra pembangunan lainnya. Hadir di antaranya perwakilan dari Sekretariat Daerah, berbagai organisasi perangkat daerah (OPD), TNI/Polri, instansi kementerian, rumah sakit, puskesmas, hingga organisasi dan asosiasi seperti Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI). Keterlibatan lintas sektor ini menjadi bagian penting dalam memperkuat sinergi dan kolaborasi dalam upaya peningkatan derajat kesehatan masyarakat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *