Sigap dan Terampil! PIDI – PIDGI Sleman Ikuti Bimtek Bantuan Hidup Dasar

Foto bersama dalam kegiatan Bimbingan Teknis Bantuan Hidup Dasar (BHD) yang diikuti oleh peserta PIDI–PIDGI Kabupaten Sleman sebagai upaya meningkatkan keterampilan dalam penanganan kegawatdaruratan.

Sleman – Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman menyelenggarakan Bimbingan Teknis (Bimtek) Bantuan Hidup Dasar (BHD) bagi 32 peserta Program Internsip Dokter Indonesia (PIDI) dan 10 peserta Program Internsip Dokter Gigi Indonesia (PIDGI) Angkatan I. Kegiatan ini dilaksanakan pada Senin (23/02/2026) dan dipimpin oleh Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan, dr. Dedi Aprianto.

Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan tenaga medis dalam menangani kondisi kegawatdaruratan, khususnya jantung dan pernapasan. Dalam sambutannya, dr. Dedi menekankan pentingnya koordinasi dan komunikasi yang baik antara peserta internsip dengan dokter pendamping di masing-masing wahana praktik.

Dalam Bimtek ini menghadirkan narasumber dr. Riko Arundito dari UPTD PSC Yogyakarta Emergency Services (YES) yang menyampaikan materi mengenai konsep dan praktik Basic Life Support (BLS) sesuai standar terkini. Dalam paparannya, dijelaskan bahwa henti jantung merupakan kondisi gawat darurat yang dapat terjadi kapan saja dan di mana saja, dengan sebagian besar kasus disebabkan oleh penyakit jantung koroner.

“Henti jantung bisa terjadi secara tiba-tiba, sehingga penanganan awal yang cepat dan tepat sangat menentukan peluang keselamatan pasien,” jelas dr. Riko. Ia juga menekankan pentingnya kesiapsiagaan tenaga medis dalam menghadapi kondisi darurat sejak detik pertama. 

Peserta juga dibekali pemahaman mengenai perbedaan henti jantung dan serangan jantung, tanda-tanda klinis henti jantung, serta pentingnya konsep Chain of Survival dalam meningkatkan peluang keselamatan pasien. Pemahaman ini menjadi dasar sebelum peserta melakukan praktik simulasi menggunakan manekin untuk melatih keterampilan secara langsung.

Sesi praktik menjadi bagian utama dalam bimtek ini. Peserta dilatih melakukan langkah-langkah Bantuan Hidup Dasar dengan pendekatan DRS-CAB (Danger, Response, Shout for Help, Circulation, Airway, Breathing), termasuk teknik kompresi dada berkualitas tinggi (high quality CPR).

Selain itu, peserta juga mempraktikkan teknik membuka jalan napas, pemberian ventilasi yang efektif, serta rasio kompresi dan ventilasi sesuai pedoman untuk dewasa dan anak. Simulasi dilakukan dengan skenario yang menyerupai kondisi nyata di lapangan agar peserta lebih siap saat menghadapi kasus sebenarnya.

Materi pelatihan juga mencakup penggunaan Automated External Defibrillator (AED) sebagai penanganan pada kasus ventricular fibrillation (VF) dan ventricular tachycardia (VT) tanpa nadi. Peserta mempelajari cara kerja, indikasi, serta prosedur penggunaan AED secara aman dan cepat guna meningkatkan peluang Return of Spontaneous Circulation (ROSC). Selain itu, dibahas pula tata laksana pasca-ROSC yang meliputi stabilisasi airway, breathing, circulation, pengendalian tekanan darah dan oksigenasi, serta pemantauan lanjutan.

Melalui kegiatan ini, diharapkan peserta PIDI dan PIDGI mampu menjadi tenaga medis yang sigap dan terampil dalam menghadapi situasi darurat. Kemampuan tersebut diharapkan dapat meningkatkan kualitas pertolongan pertama dan peluang keselamatan pasien di masyarakat serta memperkuat sinergi layanan PSC di Kabupaten Sleman.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *