Sleman – Dalam rangka mengubah arah konten agar lebih berorientasi pada pelayanan publik, Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman mengadakan Bimbingan Teknis (Bimtek) Optimalisasi Media Sosial pada Senin (2/2/2026) di Phinisi Cafe, Floating Resto Jogja. Kegiatan ini dipimpin oleh Plt. Sekretaris Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman, dr. Tunggul Birowo.
Dalam sambutannya, dr. Tunggul menyampaikan bahwa perkembangan teknologi informasi menuntut instansi pemerintah untuk lebih adaptif dalam menyampaikan layanan kepada masyarakat. “Perkembangan informasi dan teknologi saat ini semakin pesat dan telah memasuki era digital. Sebagai institusi pemerintah, kita perlu menyesuaikan diri dan beradaptasi, khususnya dalam pemanfaatan media sosial sebagai sarana penyampaian informasi kepada masyarakat,” ujarnya.
Pada sesi pertama, Muhammad Faridz Maulana, S.I.Kom dari Dinas Komunikasi dan Informatika Sleman memaparkan materi tentang Kebijakan Pengelolaan Media Sosial Pemerintah dalam Mendukung Keterbukaan Informasi Publik. Ia menyampaikan hasil Penilaian Keterbukaan Informasi Publik (KIP) Tahun 2025, di mana pada indikator media sosial nilai yang diperoleh Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman masih perlu ditingkatkan karena konten dinilai lebih banyak berisi kegiatan seremonial.
“Sebagai badan publik, media sosial seharusnya lebih berorientasi pada kebutuhan masyarakat. Konten pelayanan publik, informasi layanan, dan edukasi kesehatan perlu diperbanyak. Konten seremonial tetap bisa dipublikasikan, tetapi framing-nya harus menunjukkan manfaat bagi masyarakat,” jelas Faridz.
Pada sesi kedua, Christina Dwi Eni Budiningsih, S.ST dari Tim Media Sosial RSUD Sleman membawakan materi tentang pemilihan color palette sebagai bagian dari brand guidelines serta penjadwalan konten. Ia menjelaskan bahwa desain media sosial instansi bukan sekadar estetika, melainkan representasi citra dan profesionalitas.
“Warna, tipografi, dan gaya visual yang konsisten akan membantu masyarakat lebih mudah mengenali akun resmi dan memahami informasi yang disampaikan. Identitas visual itu dibangun berulang, bukan sekali pakai,” ungkap Christina.
Ia juga memaparkan pentingnya content plan yang terstruktur, penggunaan warna yang selaras dengan logo instansi, serta penerapan prinsip desain seperti balance, contrast, alignment, hingga white space agar pesan lebih mudah dipahami dan tidak membingungkan audiens.
Melalui penguatan strategi konten dan identitas visual ini, media sosial diharapkan semakin memudahkan masyarakat dalam mengakses informasi layanan, program kesehatan, hingga edukasi yang relevan dengan kebutuhan sehari-hari.
