Sinergi Kampus dan Dinas Kesehatan untuk Mengatasi Penyakit Menular-Penyakit Tidak Menular

Sleman – Upaya penanggulangan penyakit menular dan tidak menular membutuhkan sinergi lintas sektor, termasuk dukungan aktif dari dunia akademik. Hal tersebut menjadi fokus dalam Seminar Kesehatan yang diselenggarakan Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman bertema “Membangun Sinergi dengan Kampus dan Kolaborasi Lintas Sektor dalam Mengatasi Penyakit Menular dan Tidak Menular” yang digelar pada tanggal 19 – 20 November 2025 di Kampus 2 Universitas Jenderal Achmad Yani Yogyakarta.

Kegiatan menghadirkan tenaga kesehatan, Organisasi Perangkat Daerah (OPD), serta akademisi untuk memperkuat peran lintas sektor dan mahasiswa dalam edukasi pencegahan Tuberkulosis (TB), HIV, serta Diabetes Melitus, sekaligus mengurangi stigma yang masih melekat.

Seminar juga dirangkai dengan pemeriksaan kesehatan gratis sebagai upaya promotif dan preventif bagi peserta. Pemeriksaan yang dilakukan adalah pemeriksaan tekanan darah, pengukuran Tinggi dan Berat Badan, pemeriksaan Kadar Gula Darah, Skrining Kesehatan jiwa, Pemeriksaan Kesehatan mata, kesehatan gigi dan mulut, pemeriksaan/tes HIV serta Malaria.

Pada sesi “Healthy Youth, TB-Free Future”, dr. Hendris Utama Citra Wahyudin, Sp.P menjelaskan pengetahuan dasar mengenai TB, mulai dari penyebab, gejala hingga cara penularannya. Ia menegaskan bahwa TB dapat disembuhkan dengan pengobatan teratur minimal enam bulan dan bukan penyakit yang patut distigmatisasi. Selain itu, gaya hidup sehat seperti asupan nutrisi seimbang, aktivitas fisik, tidur cukup, tidak merokok serta lingkungan yang sehat menjadi bagian penting dalam pencegahan TB di kalangan anak muda.

Mahasiswa juga didorong untuk menjadi duta informasi TB melalui kampanye edukatif, skrining gejala, penguatan komunitas peduli TB, hingga riset inovatif. “TB adalah isu kesehatan publik yang membutuhkan dukungan semua pihak, termasuk perguruan tinggi. TB bukan kutukan dan bukan akibat perilaku buruk, sehingga tidak boleh distigma,” tegasnya.

Sesi selanjutnya bertajuk “Generasi Anti Stigma HIV: Berani Sehat” disampaikan oleh Prof. dr. Yanri Wijayanti Subronto, Ph.D., Sp.PD-KPTI. Ia menekankan bahwa HIV tidak menular melalui kontak sosial seperti bersalaman atau berbagi makanan, dan dengan terapi ARV, Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA) dapat hidup sehat dan produktif. “Yang harus kita lawan bukan orangnya, tetapi stigma dan diskriminasinya,” ujarnya.

Mahasiswa dinilai memiliki peran strategis dalam menghapus stigma melalui komunikasi empatik, menginisiasi kampanye kesadaran, menciptakan ruang aman di kampus, serta mendukung teman sebaya tanpa menghakimi. Mereka juga diajak untuk melakukan tindakan preventif seperti perilaku seks aman, tidak menggunakan narkoba suntik, hingga tes HIV berkala bagi yang berisiko.

Melalui kegiatan ini, diharapkan perguruan tinggi dapat menjadi mitra strategis dalam percepatan pencegahan dan penanggulangan penyakit menular di Kabupaten Sleman. Kesadaran dan keterlibatan aktif mahasiswa menjadi kunci mewujudkan lingkungan kampus yang sehat, bebas diskriminasi, dan mendukung upaya eliminasi TB serta penghapusan stigma HIV.

Selain penyakit menular, seminar juga menyoroti pentingnya penanganan penyakit tidak menular, khususnya ”Diabetes Melitus” yang terus meningkat di Indonesia. Dalam sesi ini, Ali Baswedan, Sp.PD-KEMD menekankan bahwa diabetes bukan hanya penyakit “orang tua” tetapi sudah banyak ditemukan di usia muda dan menyerang siapa saja yang memiliki pola hidup tidak sehat seperti konsumsi gula berlebih, kurang aktivitas fisik, obesitas, pola tidur buruk, serta stres berkepanjangan. Peserta juga diberi penekanan bahwa banyak yang terkena Diabetes Melitus tanpa sadar karena gejalanya samar sehingga masalahnya muncul pelan, tetapi berakibat besar

Dengan memahami bahwa diabetes dapat menyebabkan komplikasi serius seperti penyakit jantung, gagal ginjal, kebutaan, hingga amputasi, mahasiswa diharapkan lebih sadar pentingnya hidup sehat sejak dini. Perguruan tinggi pun diajak menjadi lingkungan yang mendukung gaya hidup sehat melalui fasilitas olahraga, kampanye gizi seimbang, dan kegiatan promotif lainnya.

Pada hari kedua sebelum mengikuti seminar dan Forum Grup Discution (FGD) secara luring, para peserta melewati tahapan Pemeriksaan Kesehatan/Cek Kesehatan Gratis (CKG). CKG dimaksudkan untuk skrining terkait penyakit menular yaitu pemeriksaan TB, HIV, dan Malaria bagi peserta yang berasal dari daerah endemis malaria, serta skrining penyakit tidak menular dengan pemeriksaan tekanan darah, pemeriksaan kadar gula darah, pengukuran Tinggi badan dan Berat Badan, pemeriksaan Gigi serta Skrining Kesehatan Jiwa. Dengan dilakukan pemeriksaan kesehatan terhadap peserta seminar ini diharapkan dapat diketahui status kesehatannya serta jika ada masalah kesehatan dapat terdeteksi secara dini sehingga dapat dilakukan upaya-upaya pencegahan dan penanganannya.

Melalui kegiatan ini, diharapkan perguruan tinggi dapat menjadi mitra strategis dalam percepatan pencegahan dan penanggulangan penyakit menular dan tidak menular di Kabupaten Sleman. Kesadaran dan keterlibatan aktif mahasiswa menjadi kunci mewujudkan lingkungan kampus yang sehat, bebas diskriminasi, serta berorientasi pada masa depan generasi yang bebas TB, antistigma HIV, dan terhindar dari ancaman Diabetes Melitus.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *