Sleman – Sebagai upaya meningkatkan kapasitas tenaga kesehatan dalam penanganan penyakit pernapasan, Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman menyelenggarakan Bimbingan Teknis (Bimtek) Penyakit Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) – Pneumonia pada Senin (27/10/2025) di Rumah Makan Pringsewu. Kegiatan ini diikuti oleh dokter dan tenaga kesehatan dari puskesmas se-Kabupaten Sleman dengan narasumber dari PERPARI (Perhimpunan Respirologi Indonesia) DIY.
Kepala Bidang Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan, dr. Khamidah Yuliati, M.M.R, dalam sambutannya menyampaikan pentingnya peningkatan kemampuan tenaga kesehatan dalam deteksi dini dan penatalaksanaan penyakit pernapasan. “Kasus ISPA dan Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK) masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang perlu perhatian serius. Melalui kegiatan ini, kami berharap penanganan di tingkat layanan dasar dapat lebih optimal,” ujarnya.
dr. Subroto, Sp.PD, Subsp.PMK(K) selaku Narasumber menyampaikan materi mengenai epidemiologi dan beban penyakit ISPA (Influenza). Dalam paparannya, dijelaskan bahwa ISPA merupakan infeksi yang menyerang saluran napas atas maupun bawah, berlangsung hingga 14 hari, dan dapat disebabkan oleh berbagai mikroorganisme seperti virus, bakteri, atau jamur. Kemudian, Influenza termasuk salah satu penyebab ISPA yang disebabkan oleh virus influenza tipe A, B, dan C, dengan gejala umum berupa demam, batuk, nyeri otot, serta kelelahan.
dr. Subroto, Sp.PD, Subsp.PMK(K) juga menyampaikan terkait Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK). Beliau menjelaskan bahwa PPOK merupakan penyakit kronis yang ditandai dengan keterbatasan aliran udara yang persisten dan progresif, dapat dicegah dan diobati tetapi tidak dapat disembuhkan sepenuhnya. Kondisi ini umumnya disebabkan oleh respons inflamasi kronis akibat paparan gas atau partikel berbahaya.
“Secara global, PPOK menjadi salah satu penyebab utama morbiditas dan mortalitas, terutama di negara berpenghasilan rendah hingga menengah,” ujar dr. Subroto. Prevalensi PPOK pada populasi dewasa diperkirakan mencapai 10–15 persen dan menempati urutan ketiga sebagai penyebab kematian tertinggi di dunia. Faktor risiko utama meliputi paparan asap rokok, polusi udara, paparan bahan kimia di tempat kerja, infeksi saluran napas berulang sejak kecil, serta faktor genetik seperti defisiensi alfa-1 antitripsin.
Dalam hal diagnosis, dr. Subroto menjelaskan bahwa gejala utama PPOK meliputi sesak napas, batuk kronis, dan produksi dahak berlebihan. Proses diagnosis PPOK dilakukan dengan beberapa tahapan.
- Dokter terlebih dahulu menggali riwayat keluhan dan kebiasaan pasien seperti merokok atau sering terpapar asap dan polusi (anamnesis).
- Setelah itu dilakukan pemeriksaan fisik, antara lain mendengarkan suara napas untuk melihat apakah ada bunyi tambahan seperti wheezing atau ronki yang menandakan adanya gangguan pada paru-paru.
- Pemeriksaan penting lainnya adalah spirometri, yaitu tes untuk mengukur kemampuan paru-paru dalam mengeluarkan udara. Jika hasilnya menunjukkan perbandingan hembusan napas (FEV1/FVC) di bawah 70 persen setelah diberikan obat pelega napas, maka hal itu menandakan adanya PPOK. Selain itu, pemeriksaan ini membantu menilai tingkat keparahannya.
- Untuk memastikan kondisi lebih lanjut, dokter juga dapat melakukan foto rontgen dada (radiologi toraks) atau pemeriksaan gas darah pada beberapa kasus tertentu.
Dari hasil diskusi, peserta menyepakati sejumlah tindak lanjut, antara lain memperkuat peran fasilitas kesehatan tingkat pertama dalam deteksi dini dan edukasi pasien, mempercepat diagnosis serta terapi pada 48 jam pertama untuk mencegah komplikasi, dan meningkatkan koordinasi lintas program antara Dinas Kesehatan, puskesmas, serta masyarakat.
