Sleman Berhasil Turunkan Stunting

Pemerintah Kabupaten Sleman berhasil menurunkan kasus stunting pada tahun 2024 dibandingkan dengan tahun sebelumnya menjadi 4,41%. Angka ini menurun 0,1% dibanding kasus tahun 2023 sebanyak 4,51%. Capaian ini disampaikan pada acara Diseminasi Pengukuran dan Publikasi Stunting Kabupaten Sleman di Hotel Prima SR (14/10). Sementara itu, Penjabat Sementara (Pjs) Bupati Sleman Kusno Wibowo, ST. MSi. dalam arahannya menyambut baik angka stunting di Sleman terus menurun setiap tahunnya. Namun tetap stunting menjadi pekerjaan rumah yang harus diselesaikan bersama-sama. “Penurunan angka stunting menjadi tanggung jawab seluruh OPD sesuai dengan tugas dan fungsinya” tegas Kusno.

Kepala Dinas Kesehatan Sleman, dr. Cahya Purnama, M.Kes. menjelaskan mengenai penanganan dan pencegahan stunting di Kabupatens Sleman berjalan baik sesuai dengan target yang ditetapkan. “Kasus stunting pada tahun 2022 mencapai 6,88%. Angka ini semakin menurun pada tahun 2024 menjadi 4,41%”, terangnya.

Keberhasilan yang diraih ini atas kerjasama semua pihak melalui program percepatan penanggulangan stunting yang dijalankan Pemkab Sleman. Perlu dicatat bahwa angka tersebut didapat melalui pengukuran dan pelaporan gizi balita yang dilakukan di Puskesmas melalui aplikasi Elektronik Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat (e-PPGBM).

Berdasarkan Audit Kasus Stunting (AKS) pada beberapa wilayah, penyebab stunting utamanya karena pola pemberian makan balita yang tidak tepat. Makanan yang diberikan belum adekuat, karena menitikberatkan pada camilan. “Pola asuh yang belum bagus, salah satunya memberikan camilan yang tidak sesuai kepada anak, tidak ada jadwal teratur ketika makan, ini dimulai ketika MPASI,” jelasnya, Senin (14/10).

Temuan lainnya dalam pertemuan ini, kemiskinan bukan menjadi penyebab utama kejadian stunting di Kabupaten Sleman. Hasil kajian menyimpulkan penyebab stunting yang mana kemiskinan hanya berkontribusi 5% sedangkan lebih dari 90% diakibatkan berbagai faktor termasuk pola asuh. Faktor penyebab lainnya berupa akses terhadap penjaminan pembiayaan kesehatan. Karena masih banyak yang kurang memahami stunting termasuk dalam kategori yang dijamin oleh BPJS Kesehatan. Selanjutnya, pemberian asupan gizi balita berupa makanan tambahan (PMT) kurang sesuai target. Penyebab lainnya, perawakan pendek nonstunting atau kasus stunting dengan red flag belum seluruhnya dirujuk untuk ditangani dokter spesialis anak. Serta, kebiasaan merokok yang berisiko menyebabkan menghambat pertumbuhan.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *