Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus dengue melalui gigitan nyamuk Aedes terutama Aedes aegypti. Menurut data Profil Kesehatan Indonesia tahun 2019, kasus DBD yang dilaporkan pada tahun 2019 tercatat sebanyak 138.127 kasus. Jumlah ini meningkat dibandingkan tahun 2018 sebesar 65.602 kasus. Incidence Rate DBD pada tahun 2019 sebesar 51,53 per 100.000 penduduk. Angka ini menunjukkan peningkatan dibandingkan dua tahun sebelumnya yaitu tahun 2017 dan 2018. Secara nasional, CFR menunjukkan sedikit penurunan dari 0,71% pada tahun 2018 menjadi 0,67% pada tahun 2019.
Masalah kasus DBD di Kabupaten Sleman masih menjadi hal yang perlu ditindak lanjuti, hal ini berdasarkan catatan Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman pada tahun 2018 terdapat 144 kasus dan 1 meninggal, Di Kabupaten Sleman tahun 2019 mengalami kenaikan menjadi 728 kasus dan 1 meninggal. Kasus DBD di wilayah kerja Puskesmas Mlati II pada tahun 2018 terdapat 18 kasus kemudian di tahun 2019 terjadi kenaikan kasus DBD dengan jumlah 50 kasus.
Cakupan rumah/bangunan bebas jentik nyamuk Aedes menjadi indikator sasaran di dalam Rencana Strategis (Renstra) Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman Tahun 2016-2021 dengan target kinerja sasaran 95%.
Poin utama dalam pengembangan rencana strategis salah satunya yaitu meningkatkan pemberdayaan masyarakat di bidang promotif preventif. Perilaku pemberantasan sarang nyamuk (PSN) 3M Plus bertujuan untuk mengendalikan tempat perindukan sarang nyamuk dan upaya menghindari kontak dengan nyamuk Aedes yang merupakan vektor DBD. Apabila perilaku ini dilakukan dengan baik, maka dapat memutus rantai penularan DBD sehingga angka kejadian DBD dapat turun.
Berdasarkan latar belakang permasalahan tersebut, dikembangkan inovasi Kelambu, yang bertujuan :
1. Tujuan umum
Meningkatkan angka bebas jentik (ABJ) di wilayah Puskesmas Mlati II.
2. Tujuan khusus
a. Kemandirian kader kesehatan lingkungan dan tokoh masyarakat dalam pelaksanaan monitoring PSN (Pemberantasan Sarang Nyamuk).
b. Adanya sistem kewaspadaan dini pengendalian DBD.
c. Adanya dukungan lintas sektor dalam pengendalian DBD.
Strategi pelaksanaan inovasi upaya penanggulangan DBD dengan KELAMBU dilaksanakan sebagai berikut :
1. Identfikasi masalah penanggulangan DBD dengan penanggung jawab DBD dan Kepala Puskesmas.
2. Koordinasi lintas program dan penguatan lintas sektor
3. Modifikasi form monitoring PSN dengan menambah respon dari pemilik rumah jika ada jentik
4. Monitoring PSN dan edukasi oleh kader secara mandiri.
Pelaksanaan monitoring PSN oleh kader sesuai kesepakatan dilaksanakan setiap 1 bulan sekali dengan sasaran 20-25 rumah. Hasil monitoring PSN, foto kegiatan dan tindak lanjut jika ada jentik di isikan melalui melalui grup whatsapp Kader Kesling PHBS.
5. Monitoring PSN dan edukasi bersama unsur masyarakat dan lintas sektor
Petugas menjelaskan cara pemantauan jentik, kesepakatan bahwa unsur masyarakat melakukan edukasi ke penghuni rumah jika menemukan jentik nyamuk. Hasil monitoring PSN dijadikan dasar oleh dukuh untuk membuat rencana tindak lanjut.
6. Pendampingan kader oleh psikolog, TPKIP (Tenaga Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku) dan sanitarian. Kegiatan pendampingan dilakukan secara berkala dengan materi penyakit DBD dan pencegahannya, cara pemantauan jentik dan pengisian form monitoring PSN, serta materi dari Psikolog mengenai menyelaraskan tujuan diri untuk membangun komitmen sebagai kader.
7. Pelaporan monitoring PSN dan edukasi kepada penghuni rumah yang ada jentik melalui grup whatsapp puskesmas.
Upaya yang dilakukan oleh Puskesmas Mlati II melalui Inovasi KELAMBU ini telah menunjukkan hasil yang baik yaitu :
1. Adanya kenaikan jumlah pemantauan rumah sebesar 130%
2. Adanya tindak lanjut dari penghuni rumah ditemukan jentik yang merupakan hasil dari edukasi oleh kader dan unsur masyarakat. sebesar 72,86%.
3. Adanya sistem kewaspadaan dini pengendalian DBD
4. Adanya dukungan lintas sektor dalam upaya pengendalian DBD. Kelurahan Tlogoadi menganggarkan monitoring PSN sebesar Rp 34.228.500,- di tahun 2021 dan Rp 36.805.000,- di tahun 2023.
5. Angka bebas jentik (ABJ) di wilayah Puskesmas Mlati II tahun 2022 mengalami kenaikan di tahun 2021 menjadi 89,31%.
Kegiatan inovasi ini mendukung pencapaian indikator sasaran Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman yaitu cakupan rumah/bangunan bebas jentik nyamuk Aedes sehingga keberlanjutan program ini dapat dipastikan terus berjalan. Kegiatan inovasi didukung oleh pendanaan BLUD Puskesmas, dana DAK Non Fisik (BOK) dan anggaran lintas sektor. Melalui program inovasi Kelambu adanya kemandirian masyarakat dalam melakukan pemberantasan sarang nyamuk serta kegiatan monitoring PSN dan edukasi oleh kader maupun unsur masyarakat. sehingga angka bebas jentik dapat naik dan kasus penularan penyakit DBD dapat dicegah.
Inovasi ini disusun oleh Dian Wahyu Subiyanto, SKM (Sanitarian Puskesmas Mlati II)
