dr. Faisal Heryono, Sp.PD memberikan paparan

Kamis (22/2), Dinas Kesehatan Sleman menyelenggarakan pertemuan update knowledge penyakit Leptospirosis bagi dokter klinis. Pertemuan yang diselenggarakan di Aula Wistara ini dihadiri oleh 40 orang yang terdiri dari dokter klinis dari 15 Rumah Sakit dan 25 Puskesmas se-Kabupaten Sleman. Adapun tujuannya adalah menekan angka kematian akibat penyakit leptospirosis. Selaku narasumber utama update knowledge yakni dr. Faisal Heryono, Sp.PD dari RSUP dr. Sardjito Yogyakarta. Dalam paparannya, dr. fasial mengupas epidemiologi sampai dengan tatalaksana penyakit leptospirosis. “Deteksi dini bisa dilakukan oleh Puskesmas dengan scoring” jelas Fasial.

Kepala Bidang Pencegahan  dan Pengendalian Penyakit, dr. Novita Krisnaeni, MPH, mengungkapkan bahwa pencegahan, penemuan dan pengobatan yang tepat akan menekan kematian. “Pencegahan leptospirosis dapat dilakukan dengan perbaikan sanitasi lingkungan, memberikan imunisasi pada binatang ternak, meningkatkan kebersihan diri, sarana air bersih, dan pengendalian hewan mengerat” terang Novita. Hal tersebut penting dilakukan karena adanya kasus leptospirosis pada tahun 2017. Menurut Kepala Seksi Pengendalian Penyakit Menular, Dulzaeni, S.Kep., penyakit leptopsirosis menjadi salah satu penyakit yang patut diwaspadai terutama pada musim penghujan. “Berdasarkan data 2017, terdapat 48 kasus positif leptospirosis yang terjadi pada musim penghujan,” tutur Dulzaeni.

Perlu diketahui bahwa Leptospirosis adalah penyakit yang disebabkan oleh bakteri genus Leptospira, yang menyerang manusia dan binatang. Penyakit tersebut dalam tubuh manusia dapat menimbulkan gejala atau tidak sama sekali. Gejala leptospirosis meliputi demam tinggi, sakit kepala, rasa dingin, sakit otot, dan muntah, dan kulit
dan mata menguning, mata merah, sakit abdominal, diarrhea, atau ruam. Jika penyakit tidak ditangani, bisa berkembang menjadi kerusakan ginjal, radang selaput, kegagalan hati, dan gangguan pernafasan.(cp)