“SILOG” Upaya Nyata Tingkatkan Pelayanan Kefarmasian di Puskesmas Gamping I

Aplikasi Silog

Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia nomor 75 tahun 2014 menyebutkan bahwa Puskesmas harus menyelenggarakan beberapa pelayanan kesehatan, salah satunya adalah Pelayanan Kefarmasian. Pelayanan kefarmasian mengharuskan dilakukan perluasan pelayanan dari paradigma lama yang berorientasi kepada produk (drug oriented) menjadi paradigma baru yang berorientasi kepada pasien (patient oriented) dengan filosofi pharmaceutical care (pelayanan kefarmasian).

Pelayanan farmasi di Puskesmas Gamping I belum optimal karena menghadapi berbagai permasalahan yaitu :

  1. Pelayanan UKP :
  2. Keluhan pelanggan yang mengeluh antri lama dan tulisan yang kurang jelas
  3. Indeks Kepuasan Pelanggan yang cenderung stagnan
  4. Sarana prasarana dan Sistem informasi elektronik yang ada belum memadai
  5. Peningkatan mutu dan keselamatan pasien belum konsisten di lakukan
  6. Data pelayanan kefarmasian belum terintergrasi
  7. Pelayanan informasi obat dan Reminder  minum obat TB masih terbatas jam kerja
  8. Inkonsistensi dalam implementasi elemen penilaian akreditasi di pelayanan farmasi
  9. Manajemen obat dan laporan masih manual
  10. Kontribusi daya dukung petugas kefarmasian dalam skala organisasi Puskesmas masih rendah
  11. Pelayanan UKM :
  12. Masih ada sebagian masyarakat yang membeli antibiotik secara bebas tanpa resep dokter. Hal ini disebabkan oleh kurangnya pemahaman masyarakat dan kurangnya informasi dari tenaga kesehatan sehingga memicu terjadinya masalah resistensi antibiotik.
  13. Penggunaan obat bebas secara berlebihan (over dosis)
  14. Terdapat kejadian efek samping obat
  15. Interaksi obat atau penyalahgunaan obat seringkali terjadi pada masyarakat dan dapat menyebabkan masalah baru dalam kesehatan.
  16. Masyarakat hanya dapat mengakses pelayanan informasi obat di jam kerja.
  17. Sebagian masyarakat belum mengetahui obat apa yang wajib tersedia di rumah sebagai langkah awal P3K.
  18. Sikap pasrah saat menerima obat (apa nama dan kandungannya, khasiatnya, berapa dosisnya, cara menggunakannya, apa efek sampingnya.
  19. Hasil survey dari 250 orang, hanya 77 orang yang tidak memerlukan pengingat minum obat, sehingga perlu mencari metode edukasi yang efektif kepada masyarakat
  20. Pemanfaatan toga belum maksimal

Puskesmas Gamping I melalui Tenaga Teknis Kefarmasian : Yuli Rinto Prabowo, A.Md.Far membuat suatu inovasi Upaya Peningkatan Kualitas Pelayanan Farmasi di Masyarakat dengan “SILOG” (Sistem Informasi peLayanan Obat Gamping I).

silog

Inisiatif ini dilakukan sejak tahun 2016, sebagai upaya untuk meningkatkan kualitas pelayanan kefarmasian dari segi manajemen obat, peningkatan mutu dan keselamatan pasien secara berkesinambungan serta memberikan informasi penggunaan obat yang benar kepada masyarakat. Keluaran yang berhasil antara lain :

Pelayanan Farmasi dalam UKP dengan SILOG :

  1. Terbentuknya Aplikasi SILOG yang dapat di gunakan semua petugas farmasi (tenaga teknis kefarmasian dan apoteker) sehingga pekerjaan menjadi efektif, efisien
  2. Terdapat fitur yang digunakan sebagai implementasi dari elemen penilaian akreditasi Puskesmas khususnya di pelayanan farmasi
  3. Laporan bulanan elektronik (Penggunaan antibiotik, ISPA kurang dari umur 14 tahun, Diare, poli farmasi, LPLPO, konseling obat, PIO, riwayat pengobatan pasien, monitoring kadaluwarsa, pemantauan terapi obat, mutasi obat) yang efektif dan efisien dapat diketahui dari SILOG, tanpa merekap secara manual
  4. Indeks kepuasan pelanggan meningkat
  5. Adanya label obat terstandar, yang langsung di cetak dari aplikasi, jelas, bisa di baca, informasi lengkap (no resep, no rm, tgl berkunjung, nama pasien, aturan pakai, nama obat, tanggal kadaluwarsa dan nomer telpon yang dapat dihubungi) sehingga meningkatkan mutu dan keselamatan pasien.
  6. Aplikasi Reminder  minum obat TB (sms gateway +62817597788) yang terintegrasi dengan SILOG, sehingga meningkatkan kepatuhan minum obat
  7. Data dapat diakses oleh petugas farmasi 24 jam, melalui gadget dimana SILOG terintegrasi dengan sisfomas (sistem informasi puskesmas)
  8. Akses informasi 24 jam melalui WA, SMS gateway
  9. Tugas integrasi yang diberikan kepala puskesmas kepada petugas farmasi dapat lebih optimal karena SILOG membuat waktu pelayanan obat menjadi efektif, efisien

       Selain itu, untuk Upaya Kesehatan Masyarakat (UKM) telah dibentuk dibentuk  Kampung Melek Obat, dengan semakin banyaknya kebutuhan informasi tentang obat, di perlukan upaya dari Puskemas untuk membuat kegiatan yang bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat akan pengelolaan obat di rumah tangga.

Pembentukan Kampung Melek Obat
Pembentukan Kampung Melek Obat

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *