Isu-isu strategis sektor kesehatan Kab. Sleman

Isu-isu strategis yang dialami oleh sektor kesehatan di Kabupaten Sleman yang perlu diantisipasi  untuk kurun waktu mendatang adalah sebagai berikut:

1.        Derajat Kesehatan

Usia harapan hidup di Kabupaten Sleman berdasarkan hasil dari BPS tahun 2006 sebesar 73,8 tahun meningkat menjadi 74,74 tahun pada tahun 2009. Peningkatan ini menunjukkan bahwa kondisi di Kabupaten Sleman sudah melampui baik angka Nasional maupun Propinsi, dimana untuk angka Propinsi sebesar 73,11 tahun dan Nasional 69,21 tahun. Tingginya angka harapan hidup pada sisi lain juga akan berdampak pada pergeseran pola penyakit-penyakit degenerative seperti hipertensi, diabetes mellitus, dan penyakit tidak menular lainnya.

2.        Angka Kematian

Angka kematian bayi, ibu bersalin dan angka kematian balita di Kabupaten Sleman masih lebih rendah dari angka kematian DIY dan Nasional, tercatat AKB tahun 2009 sebesar 5,81 per 1000 KH, dan jumlah Kematian Ibu  sebanyak 13 ibu dari 11.591 kelahiran pada tahun 2010.  Dan AKABA sebesar 2 per 1000 KH. Meskipun demikian perlu diperhatikan untuk peningkatan akses dan kualitas pelayanan Kesehatan sehingga kematian bayi, kematian ibu maupun kematian balita dapat dikendalikan.

Kematian bayi di kabupaten Sleman lebih banyak  disebabkan karena  kondisi sosial ekonomi masyarakat,dan  kualitas pelayanan ibu hamil yang belum optimal serta masih rendah dan perilaku konsumsi Fe rendah.

3.        Pola Penyakit

Dari pola penyakit di kabupaten Sleman menunjukan adanya kecenderungan yang meningkat pada penyakit degeneratif. Sehingga kebutuhan akan sumber daya terutama peralatan dan pembiayaan pada pelayanan primer dan sekunder meningkat.

4.        Kurang energi protein

Masih adanya kasus kurang energi protein pada balita,  sebanyak 0,53% balita berstatus gizi buruk, dan kasus gizi kurang sebesar 10,

5.        Masalah Demografi

–        Angka Ketergantungan (Dependency Ratio) tahun 2009 sebesar 81,8 % artinya setiap 100 penduduk ditanggung oleh penduduk usia produktif sebanyak 81 orang. Besarnya angka beban tanggungan menjadikan beban bagi pemerintah untuk menyiapkan lapangan pekerjaan.

–        Laju pertumbuhan penduduk kabupaten Sleman rata-rata sebesar 1,43 %.setiap tahun akan menyebabkan jumlah penduduk Kabupaten Sleman diproyeksikan pada tahun 2014 menjadi 1.149.433 jiwa dengan jumlah laki-laki sebesar 570.862 jiwa, dan perempuan sebanyak 578.571 jiwa.

6.        Proyeksi Jumlah penduduk balita

Penduduk balita berdasarkan hasil proyeksi diperkirakan pada tahun 2009 sebesar 59.692 jiwa menjadi 103.668 balita pada kurun waktu 5 tahun atau naik sebesar 43.976 balita (73,67%) banyaknya jumlah balita tersebut sangat berpengaruh dalam penyediaan sarana dan prasarana pelayanan Kesehatan di Kabupaten Sleman seperti jumlah Posyandu, Puskesmas Pembantu, Rumah sakit dan lain-lain.  .

7.        Jumlah Penduduk Miskin

Berdasarkan hasil pendataan keluarga miskin di Kabupaten Sleman tercatat sebanyak 57.979 KK Miskin. Dengan jumlah jiwa sebanyak 195.600 jiwa yang tersebar di 17 kecamatan.Dengan jumlah penduduk miskin sekitar 18% tersebut sangat berpengaruh terhadap pembiayaan Kesehatan yang ada di Kabupaten Sleman dan kualitas pelayanan Kesehatan, sehingga perlu diupayakan pemecahan masalah berkaitan dengan mekanisme dan proses asuransi Kesehatan yang ada di Kabupaten Sleman.

8.        Ketersediaan sumberdaya Kesehatan yang belum optimal.

Ketersediaan sumber daya Kesehatan di Kabupaten Sleman tahun 2009 tercatat sebanyak 1.090 orang, dengan kualifikasi pendidikan terbanyak keperawatan terdiri dari jenjang pendidikan D3/D4 perawat dan D1 Bidan,  Dengan gambaran sumber daya Kesehatan tersebut maka masih sangat dibutuhkan peningkatan baik secara kualitas maupun kuantitas.

9.        Pelayanan Kesehatan yang belum optimal.

Pelayanan Kesehatan yang terstandar dari 25 Puskesmas baru tercapai sebanyak 15 Puskesmas tahun 2009, sehingga masih ada 10 Puskesmas yang belum mendapatkan sertifikasi ISO 9001:2008, pelayanan yang terstandar menunjukkan bahwa kualitas pelayanan sangat diutamakan di Kabupaten Sleman.

10.    Kasus balita gizi buruk.

Balita dengan gizi buruk di Kabupaten Sleman tahun 2009 tercatat sebesar 0,53% atau sebanyak 300 balita dengan kasus gizi buruk.

11.    Ancaman penyakit menular maupun penyakit tidak menular.

Beberapa penyakit menular maupun penyakit tidak menular di Kabupaten Sleman masih menjadi masalah Kesehatan masyarakat, seperti TBC, DBD, diare, HIV AIDS maupun penyakit tidak menular seperti hipertensi, Diabetus mellitus dan kanker,

12.    Kesadaran masyarakat untuk melaksanakan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) masih kurang.

Perilaku hidup bersih dan sehat pada masyarakat belum optimal, kecenderungan

13.    Fasilitas pelayanan Kesehatan lanjutan bagi peyandang cacat dan lansia belum memadai.

Penanganan bagi penderita cacat maupun orang berkebutuhan khusus di kabupaten Sleman masih sangat kurang, dengan jumlah sekitar 2000 penderita cacat yang ada baru sekitar 25% yang masuk dalam program asuransi Kesehatan, dan amsih ada sekitar 75% penduduk yang belum mendapat perlindungan jaminan Kesehatan.

14.    Penduduk miskin belum seluruhnya mendapat jaminan Kesehatan.

Penduduk Miskin dalam mendapatkan pelayanan kesehatan seluruhnya harus menjadi tanggungjawab pemerintah, meskipun demikian dalam implementasinya masih ada penduduk miskin yang belum mendapatkan jaminan kesehatan dikarenakan berbagai sebab, antara lain data based yang digunakan masih ada perbedaan persepsi, dan juga mekanisme pelayanan rujukan dan klaim yang belum sesuai.

15.    Perubahan iklim menyebabkan perubahan kualitas lingkungan.

Fenomena perubahan iklim secara tidak langsung akan berdampak pada penyebaran dan pergeseran pola penyakit yang ada. Kecenderungan munculnya penyakit-penyakit DBD, diare sangat tergantung pada kondisi iklim, sehingga ini perlu perhatian untuk penanganan lima tahun kedepan.

16.    Penanganan limbah berbahaya belum optimal.

Limbah berbahaya terutama hasil olahan pabrik maupun industri proses penanganannya belum dilakukan secara optimal, berbagai kasus akibat limbah berbahaya di kabupaten Sleman sudah mulai menunjukkan kenaikan.

17.    Kualitas air bersih (angka kuman yang masih tinggi).

Tingginya angka kuman sebagai penyebab penyakit menjadikan perhatian terhadap pengolahan sumber-sumber air bersih, lebih-lebih Kabupaten Sleman termasuk salah satu daerah dengan sumber mata air bersih yang banyak, maka diperlukan adanya upaya yang terus menerus berkaitan dengan kualitas air bersih tersebut.

18.    Penanganan masalah Kesehatan jiwa masyarakat yang belum optimal.

Kasus-kasus penyakit yang diakibatkan oleh gangguan mental di kabupaten Sleman cenderung menunjukkan kenaikan sehingga hal tersebut perlu ada upaya yang lebih baik lagi.

19.    Banyaknya peredaran makanan dan jajanan anak sekolah yang kurang optimal.

Peredaran makanan jajanan anak sekolah menunjukkan adanya kenaikan, meskipun penyebab akibat mengkonsumsi jajanan makanan di sekolah-sekolah tetapi pengawasan terhadap proses penyajian dan pembuatan produksi olahan makanan yang belum dilakukan secara maksimal.

20.    Sistem informasi Kesehatan (SIK) yang belum optimal pemanfaatannya.

Sistem informasi Kesehatan sebagai salah satu fungsi untuk meningkatkan manajemen Kesehatan, belum semua Puskesmas secara real time dapat mengirimkan laporannya ke Dinas Kesehatan, sampai saat ini bari sekitar 40% Puskesmas yang secara langsung dapat mengirimkan laporannya ke dinas Kesehatan.

•          Pengelolaan bidang kesehatan pada bencana dan percepatan pemulihan  paska bencana:

  • Ancaman meningkatnya penyakit menular akibat  PHBS dan kondisi sanitasi lingkungan di barak pengungsian/ huntara yang belum optimal
  • Ancaman penurunan status gizi terutama pada kelompok rentan pengungsi/korban bencana(balita dan bumil)
  • Belum terpenuhinya sarpras standar di wilayah Puskesmas KRB Gunung Merapi(a.l.mobil Puskesling,gedung Pustu)
  • Perlu peningkatan pendampingan dalam revitalisasi UKBM terutama di wilayah KRB Cangkringan
  • Pelaksanaan manajemen penanggulangan  bencana bidang kesehatan di UPT masih perlu  penguatan

•          Menjaga kualitas kesehatan penduduk

  • Ketersediaan sumberdaya kesehatan Dinkes dan UPT masih terbatas
  • Sarana yankes dan penunjang di wilayah yang makin kompleks perlu peningkatan peningkatan regulasi dan pengawasan
  • Penduduk miskin belum seluruhnya mendapat jaminan pembiayaan kesehatan serta belum terwujudnya pelaksanaan Jamkesda/Jamkesta(Jamkesdata)
  • Kondisi kesehatan lingkungan menurun akibat bencana erupsi merapi  dan perubahan iklim global

•          Peningkatan tata kelola dalam upaya meningkatkan kualitas pelayanan publik

  • Optimalisasi Implementasi SMM ISO 9001:2008 di Dinkes dan UPT
  • Implementasi BLUD Bertahap di UPT masih memerlukan pendampingan penguatan manajemen dan sumberdaya
  • Belum optimalnya implementasi SIK berbasis jaringan dan ketersediaan informasi publik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *