Isolasi Mandiri bagi Pasien Covid-19: Apa Saja yang Perlu Diperhatikan?

Di tengah pandemi Covid-19 yang masih meningkat baik kasus maupun penularannya, maka tidak semua pasien yang terkonfirmasi positif dirawat di fasilitas kesehatan darurat Covid-19 maupun rumah sakit rujukan. Apabila Anda mengalami gejala-gejala Covid-19 seperti batuk, kehilangan daya penciuman (anosmia), atau demam, maka segera lakukan isolasi mandiri dan jadwalkan diri Anda untuk tes swab di fasilitas kesehatan terdekat (Puskesmas/klinik/RS). Sedangkan seseorang yang sempat berkontak erat dengan orang yang dinyatakan positif Covid-19 maka perlu melakukan karantina mandiri dan melakukan tes swab pula. Bagi individu yang telah terkonfirmasi terinfeksi Covid-19 tidak memiliki gejala atau sesuai hasil asesmen tenaga kesehatan bergejala ringan maka wajib lapor ke Puskesmas dan Satgas Penanganan Covid-19 sesuai domisili, agar diarahkan ke fasilitas isolasi yang tersedia. Namun apabila belum tersedia ruangan di Shelter maka dapat melakukan isolasi mandiri.  Sebagai panduan untuk menjalankan isolasi mandiri silakan mengunduh beberapa dokumen yang diperoleh dari beberapa sumber di bawah ini dengan mengklik sesuai yang dibutuhkan:

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Teknik Proning Sebagai Bantuan Sementara
Melakukan teknik proning secara mandiri bisa membantu meningkatkan kadar oksigen di saat-saat kritis ketika bantuan medis tidak memungkinkan atau untuk mengelola gejala di rumah. Perlu diingat, ini hanya menjadi salah satu cara bantuan sementara, dan bukan pengganti perawatan di rumah sakit atau dengan dukungan oksigen. Tidak semua orang yang dites positif COVID-19 dan dirawat di rumah membutuhkan bantuan teknik proning. Namun, bagi pengidap yang mungkin menghadapi kekurangan oksigen, atau menunggu bantuan medis, teknik proning bisa membantu. Ada beberapa hal yang harus diperhatikan saat melakukan teknik proning:

Anda dapat melakukan Proning merujuk pada Kementerian Kesehatan dan Kesejahteraan Keluarga India
Siapkan empat sampai lima bantal, ubah posisi tubuh secara teratur, lebih baik tak lebih dari 30 menit per posisi

  • 30 menit – 2 jam : tubuh tengkurap
  • 30 menit – 2 jam : tubuh berbaring menghadap ke kanan
  • 30 menit – 2 jam : duduk
  • 30 menit – 2 jam : tubuh berbaring menghadap ke kiri
  • Kembali ke posisi tengkurap

Dikutip dari Halodoc, ada beberapa hal yang harus diperhatikan saat melakukan teknik proning:

  • Hindari tengkurap selama satu jam setelah makan.
  • Pertahankan proning hanya sebanyak yang bisa ditoleransi dengan mudah.
  • Seseorang diperbolehkan tengkurap hingga 16 jam sehari, dalam beberapa siklus, jika merasa nyaman.
  • Bantal bisa disesuaikan sedikit untuk mengubah area tekanan dan untuk kenyamanan.
  • Pantau setiap luka tekan atau cedera, terutama di sekitar tonjolan tulang.

Seseorang harus menghindari teknik proning jika:

  • Sedang hamil.
  • Trombosis vena dalam (diobati dalam waktu kurang dari 48 jam).
  • Memiliki masalah jantung.
  • Fraktur tulang belakang, tulang paha, atau panggung yang tidak stabil.

Apabila mengalami penurunan kondisi agar segera menghubungi fasilitas kesehatan terdekat atau dapat cek daftarnya klik di sini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *