Arsip Kategori: Artikel Dan Berita

23
Mar

Hari Tuberkulosis (TB) Tahun 2011 Kabupaten Sleman

Tanggal 24 Maret 2011 bertepatan dengan Hari TB (Tuberkulosis) sedunia pada hari tersebut tepatnya pada tanggal 24 Maret 1882 bakteri jenis Mycobacterium tuberculosis berhasil ditemukan oleh dr. Robert Koch Tuberkulosis (TB) adalah penyakit menular langsung yang masih memberikan beban pelayanan kesehatan masyarakat yang tinggi khususnya di negara-negara berkembang.

Kabupaten Sleman tahun 2011, untuk memperingati hari TB sedunia tersebut mengambil Tema ” Tuberkulosis karena bakteri bisa disembuhkan. Ayo … kita lawan TB menuju Sleman sehat. Diperkirakan sekitar sepertiga penduduk dunia telah terinfeksi oleh Mycobacterium tuberculosis. Pada tahun 1995 diperkirakan ada 9 juta pasien TB baru dan 3 juta kematian akibat TB di seluruh dunia, dan  95% kasus TB tersebut ironisnya sebanyak  98% kematian akibat TB di dunia terjadi pada Negara-negara berkembang. Demikian juga kematian wanita akibat TB lebih banyak daripada kematian karena kehamilan, persalinan dan nifas.

dari isis kelompok usia sekitar 75% pasien TB adalah kelompok usia produktif (15-50 tahun). Diperkirakan seorang pasien TB dewasa akan kehilangan rata-rata waktu kerjanya 3 sampai 4 bulan. Hal tersebut berakibat pada kehilangan pendapatan tahunan rumah tangganya sekitar 20-30%. Jika ia meninggal akibat TB maka akan kehilangan pendapatannya sekitar 15 tahun. Selain merugikan secara ekonomis, TB juga memberikan dampak buruk lainnya secara social stigma bahkan dikucilkan oleh masyarakat.

Munculnya pandemi HIV/AIDS di dunia menambah permasalahan TB. Koinfeksi dengan HIV akan meningkatkan risiko kejadian TB secara signifikan. Pada saat yang sama, kekebalan ganda kuman TB terhadap obat anti TB (multidrug resistance=MDR) semakin menjadi masalah akibat kasus yang tidak berhasil disembuhkan. Keadaan tersebut pada akhirnya akan menyebabkan terjadinya epidemi TB yang sulit ditangani.

Hasil Survey Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) pada tahun 1995 menunjukkan bahwa penyakit TB merupakan penyebab kematian nomor 3 (tiga) setelah penyakit kardiovaskuler dan penyakit saluran pernafasan pada semua kelompok usia dan nomor 1 (satu) dari golongan penyakit infeksi. Badan kesehatan dunia (WHO) telah memetakan bahwa Indonesia merupakan negara urutan ke-5 dari 22 negara yang memiliki masalah TB terbesar di dunia (high burden countries).

Hasil survei prevalensi TB di Indonesia tahun 2004 menunjukkan bahwa angka prevalensi TB BTA positif secara nasional sebesar 110 per 100.000 penduduk. Secara  regional prevalensi TB BTA positif di Indonesia dikelompokkan dalam 3 wilayah, yaitu : 1) Wilayah Sumatera angka prevalensi TB sebesar 160/100.000 penduduk; 2) Wilayah Jawa dan Bali angka prevalensi TB sebesar 110/100.000 penduduk, dan khusus untuk Provinsi DIY dan Bali prevalensi TB sebesar 64/100.000 penduduk; 3) Wilayah Indonesia Timur angka prevalensi TB sebesar 210/100.000 penduduk.

Di kabupaten Sleman capaian angka penemuan kasus baru (case detection rate) mulai tahun 2007 sampai 2010 berturut-turut adalah 48.28%; 49.49%; 53.73%; 44.84% masih dibawah target nasional 70% sedangkan angka kesembuhan (cure rate) sebesar 75%; 76.45%; 78.55%; 79.3% juga masih belum mencapai target 85%. Sedangkan kasus TB dengan HIV pada tahun 2008 ada 27 penderita, tahun 2009 ada 30 penderita dan tahun 2010 ada 10 penderita yang semuanya diobati di RS Sardjito. Infeksi oportunistik terbanyak pada penderita HIV adalah tuberkulosis.

Penemuan penderita baru oleh petugas kesehatan belum mencapai prevalensi penderita yang ada. Karenanya penemuan dini penderita merupakan hal yang utama supaya penyebaran TB di masyarakat dapat lebih ditekan.

Sebagai upaya strategis  maka perlu dilakukan gerakan yang bersifat ajakan melalui mobilisasi sumber daya yang peduli TB. Peringatan Hari TB Sedunia 24 Maret menjadi momentum yang tepat untuk bersama-sama meningkatkan kepedulian terhadap penanggulangan TB. Karena itu Dinas Kesehatan bekerja sama dengan PPTI Cabang Sleman serta komponen masyarakat peduli TB lainnya mengadakan peringatan hari TB pada momen Hari TB Sedunia 24 Maret 2011.

Tujuan kegiatan mempenringati hari TB sedunia di kabupaten Sleman adalah:

1.      Meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai TB dan bahayanya.

2.      Mobilisasi pemangku kepentingan/stake holder, pemberi layanan kesehatan dan masyarakat untuk turut serta dalam penanggulangan Tuberkulosis.

3. Meningkatkan penemuan penderita TB secara dini.

agenda kegiatan yang digelar antara lain
a. Pembagian bunga simpatik pemberian bunga dan pembagian stiker perempatan di  di titik strategis jalan ibu kota, perempatan kentungan, perempatan Jombor dsb.

b. siaran radio di radio swasta Jogjakarta tanggal 24 Maret jam 12 di radio PTDI dan Yasika FM.

c. Sarasehan TB pemasangan Poster Bahaya TB di 25 Puskesmas Kabupaten Sleman.

8
Mar

Sleman urutan ke tujuh Hasil Riskesdas Kabupaten Sleman 2010

Salah satu indikator penting dalam pembangunan adalah Human Development Index (HDI)/ Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yang terdiri dari indeks ekonomi (pendapatan riil per kapita), indeks pendidikan (angka melek huruf dan lama sekolah), dan indeks kesehatan (umur harapan hidup waktu lahir).

Untuk menentukan peringkat kabupaten/kota dalam pembangunan kesehatan disusunlah Indeks Pembangunan Kesehatan Masyarakat (IPKM) yaitu indikator komposit yang menggambarkan kemajuan pembangunan kesehatan,dirumuskan dari data kesehatan berbasis komunitas yaitu Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas), Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas), dan Survei Potensi Desa (Podes).

Ada 24 indikator kesehatan yang digunakan dalam IPKM dengan nilai korelasi UHH yang tertinggi. Indikator kesehatan tersebut adalah prevalensi balita gizi buruk dan kurang, prevalensi balita sangat pendek dan pendek, prevalensi balita sangat kurus dan kurus, prevalensi balita gemuk, prevalensi diare, prevalensi pnemonia, prevalensi hipertensi, prevalensi gangguan mental, prevalensi asma, prevalensi penyakit gigi dan mulut, prevalensi disabilitas, prevalensi cedera, prevalensi penyakit sendi, prevalensi ISPA, proporsi perilaku cuci tangan, proporsi merokok tiap hari, akses air bersih, akses sanitasi, cakupan persalinan oleh nakes, cakupan pemeriksaan neonatal-1, cakupan imunisasi lengkap, cakupan penimbangan balita, ratio Dokter/Puskesmas, dan ratio bidan/desa.

Dari hasil tersebut Kabupaten Sleman memperoleh hasil diatas normal dengan nilai 0,685481 atau secara Nasional masuk pada peringkat ke 7 dari seluruh Kabupaten Kota di Indonesia.

Selain menentukan peringkat pembangunan kesehatan kab/kota, IPKM dapat menjadi acuan pemerintah daerah (Pemda) membuat program intervensi yang lebih tepat, bahan advokasi ke Pemda agar terpacu menaikkan peringkat kesehatannya, perumusan daerah bermasalah kesehatan berat/khusus (DBKBK), dasar penentuan alokasi dana bantuan kesehatan dari pusat ke daerah, dan membantu Kementerian Negara Pembangunan Daerah Tertinggal (KMPDT) dalam membangun kab/kota.

Berdasar hasil Riskesdas 2007, dari 440 kabupaten/kota diperoleh peringkat masing-masing kota dan kabupaten dengan tingkat kesehatan terbaik hingga terburuk. Hasil IPKM terlihat nilai terendah atau tingkat kesehatannya buruk adalah daerah Pegunungan Bintang, Papua (0,247059) dan tertinggi adalah Kota Magelang, Jateng (0,708959).

Kabupaten/kota mempunyai masalah kesehatan yang berbeda, bergantung kepada keadaan 24 indikator kesehatan yang masuk dalam IPKM. Seperti perbedaan IPKM antara Kab. Gianyar dan Manggarai, dimana peringkat IPKM Kab. Gianyar lebih baik dibanding Manggarai, namun perilaku cuci tangan lebih banyak di Kab. Manggarai dibanding Kab. Gianyar. Begitu pula kasus diare di Kab. Gianyar pun lebih banyak dibanding Kab. Manggarai.

Berdasar perhitungan rata-rata nilai, diperoleh batas bawah/normal IPKM yaitu 0,415987 dan daerah dengan nilai dibawah normal dikategorikan sebagai daerah bermasalah kesehatan berat/khusus (DBKBK). Ada beberapa kabupaten yang berada di bawah normal atau termasuk DBKBK, tapi tidak ada satu kota pun dibawah normal.

Kesehatan berhubungan erat dengan kemiskinan. Secara keseluruhan IPKM juga berhubungan dengan proporsi penduduk miskin per kab/kota. Namun tidak semua kab/kota yang miskin berada pada peringkat kesehatan yang buruk, begitu pula sebaliknya. IPKM kota tidak berhubungan dengan kemiskinan dan tidak termasuk daerah tertinggal.

7
Mar

Isu-isu strategis sektor kesehatan Kab. Sleman

Isu-isu strategis yang dialami oleh sektor kesehatan di Kabupaten Sleman yang perlu diantisipasi  untuk kurun waktu mendatang adalah sebagai berikut:

1.        Derajat Kesehatan

Usia harapan hidup di Kabupaten Sleman berdasarkan hasil dari BPS tahun 2006 sebesar 73,8 tahun meningkat menjadi 74,74 tahun pada tahun 2009. Peningkatan ini menunjukkan bahwa kondisi di Kabupaten Sleman sudah melampui baik angka Nasional maupun Propinsi, dimana untuk angka Propinsi sebesar 73,11 tahun dan Nasional 69,21 tahun. Tingginya angka harapan hidup pada sisi lain juga akan berdampak pada pergeseran pola penyakit-penyakit degenerative seperti hipertensi, diabetes mellitus, dan penyakit tidak menular lainnya.

2.        Angka Kematian

Angka kematian bayi, ibu bersalin dan angka kematian balita di Kabupaten Sleman masih lebih rendah dari angka kematian DIY dan Nasional, tercatat AKB tahun 2009 sebesar 5,81 per 1000 KH, dan jumlah Kematian Ibu  sebanyak 13 ibu dari 11.591 kelahiran pada tahun 2010.  Dan AKABA sebesar 2 per 1000 KH. Meskipun demikian perlu diperhatikan untuk peningkatan akses dan kualitas pelayanan Kesehatan sehingga kematian bayi, kematian ibu maupun kematian balita dapat dikendalikan.

Kematian bayi di kabupaten Sleman lebih banyak  disebabkan karena  kondisi sosial ekonomi masyarakat,dan  kualitas pelayanan ibu hamil yang belum optimal serta masih rendah dan perilaku konsumsi Fe rendah.

3.        Pola Penyakit

Dari pola penyakit di kabupaten Sleman menunjukan adanya kecenderungan yang meningkat pada penyakit degeneratif. Sehingga kebutuhan akan sumber daya terutama peralatan dan pembiayaan pada pelayanan primer dan sekunder meningkat.

4.        Kurang energi protein

Masih adanya kasus kurang energi protein pada balita,  sebanyak 0,53% balita berstatus gizi buruk, dan kasus gizi kurang sebesar 10,

5.        Masalah Demografi

–        Angka Ketergantungan (Dependency Ratio) tahun 2009 sebesar 81,8 % artinya setiap 100 penduduk ditanggung oleh penduduk usia produktif sebanyak 81 orang. Besarnya angka beban tanggungan menjadikan beban bagi pemerintah untuk menyiapkan lapangan pekerjaan.

–        Laju pertumbuhan penduduk kabupaten Sleman rata-rata sebesar 1,43 %.setiap tahun akan menyebabkan jumlah penduduk Kabupaten Sleman diproyeksikan pada tahun 2014 menjadi 1.149.433 jiwa dengan jumlah laki-laki sebesar 570.862 jiwa, dan perempuan sebanyak 578.571 jiwa.

6.        Proyeksi Jumlah penduduk balita

Penduduk balita berdasarkan hasil proyeksi diperkirakan pada tahun 2009 sebesar 59.692 jiwa menjadi 103.668 balita pada kurun waktu 5 tahun atau naik sebesar 43.976 balita (73,67%) banyaknya jumlah balita tersebut sangat berpengaruh dalam penyediaan sarana dan prasarana pelayanan Kesehatan di Kabupaten Sleman seperti jumlah Posyandu, Puskesmas Pembantu, Rumah sakit dan lain-lain.  .

7.        Jumlah Penduduk Miskin

Berdasarkan hasil pendataan keluarga miskin di Kabupaten Sleman tercatat sebanyak 57.979 KK Miskin. Dengan jumlah jiwa sebanyak 195.600 jiwa yang tersebar di 17 kecamatan.Dengan jumlah penduduk miskin sekitar 18% tersebut sangat berpengaruh terhadap pembiayaan Kesehatan yang ada di Kabupaten Sleman dan kualitas pelayanan Kesehatan, sehingga perlu diupayakan pemecahan masalah berkaitan dengan mekanisme dan proses asuransi Kesehatan yang ada di Kabupaten Sleman.

8.        Ketersediaan sumberdaya Kesehatan yang belum optimal.

Ketersediaan sumber daya Kesehatan di Kabupaten Sleman tahun 2009 tercatat sebanyak 1.090 orang, dengan kualifikasi pendidikan terbanyak keperawatan terdiri dari jenjang pendidikan D3/D4 perawat dan D1 Bidan,  Dengan gambaran sumber daya Kesehatan tersebut maka masih sangat dibutuhkan peningkatan baik secara kualitas maupun kuantitas.

9.        Pelayanan Kesehatan yang belum optimal.

Pelayanan Kesehatan yang terstandar dari 25 Puskesmas baru tercapai sebanyak 15 Puskesmas tahun 2009, sehingga masih ada 10 Puskesmas yang belum mendapatkan sertifikasi ISO 9001:2008, pelayanan yang terstandar menunjukkan bahwa kualitas pelayanan sangat diutamakan di Kabupaten Sleman.

10.    Kasus balita gizi buruk.

Balita dengan gizi buruk di Kabupaten Sleman tahun 2009 tercatat sebesar 0,53% atau sebanyak 300 balita dengan kasus gizi buruk.

11.    Ancaman penyakit menular maupun penyakit tidak menular.

Beberapa penyakit menular maupun penyakit tidak menular di Kabupaten Sleman masih menjadi masalah Kesehatan masyarakat, seperti TBC, DBD, diare, HIV AIDS maupun penyakit tidak menular seperti hipertensi, Diabetus mellitus dan kanker,

12.    Kesadaran masyarakat untuk melaksanakan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) masih kurang.

Perilaku hidup bersih dan sehat pada masyarakat belum optimal, kecenderungan

13.    Fasilitas pelayanan Kesehatan lanjutan bagi peyandang cacat dan lansia belum memadai.

Penanganan bagi penderita cacat maupun orang berkebutuhan khusus di kabupaten Sleman masih sangat kurang, dengan jumlah sekitar 2000 penderita cacat yang ada baru sekitar 25% yang masuk dalam program asuransi Kesehatan, dan amsih ada sekitar 75% penduduk yang belum mendapat perlindungan jaminan Kesehatan.

14.    Penduduk miskin belum seluruhnya mendapat jaminan Kesehatan.

Penduduk Miskin dalam mendapatkan pelayanan kesehatan seluruhnya harus menjadi tanggungjawab pemerintah, meskipun demikian dalam implementasinya masih ada penduduk miskin yang belum mendapatkan jaminan kesehatan dikarenakan berbagai sebab, antara lain data based yang digunakan masih ada perbedaan persepsi, dan juga mekanisme pelayanan rujukan dan klaim yang belum sesuai.

15.    Perubahan iklim menyebabkan perubahan kualitas lingkungan.

Fenomena perubahan iklim secara tidak langsung akan berdampak pada penyebaran dan pergeseran pola penyakit yang ada. Kecenderungan munculnya penyakit-penyakit DBD, diare sangat tergantung pada kondisi iklim, sehingga ini perlu perhatian untuk penanganan lima tahun kedepan.

16.    Penanganan limbah berbahaya belum optimal.

Limbah berbahaya terutama hasil olahan pabrik maupun industri proses penanganannya belum dilakukan secara optimal, berbagai kasus akibat limbah berbahaya di kabupaten Sleman sudah mulai menunjukkan kenaikan.

17.    Kualitas air bersih (angka kuman yang masih tinggi).

Tingginya angka kuman sebagai penyebab penyakit menjadikan perhatian terhadap pengolahan sumber-sumber air bersih, lebih-lebih Kabupaten Sleman termasuk salah satu daerah dengan sumber mata air bersih yang banyak, maka diperlukan adanya upaya yang terus menerus berkaitan dengan kualitas air bersih tersebut.

18.    Penanganan masalah Kesehatan jiwa masyarakat yang belum optimal.

Kasus-kasus penyakit yang diakibatkan oleh gangguan mental di kabupaten Sleman cenderung menunjukkan kenaikan sehingga hal tersebut perlu ada upaya yang lebih baik lagi.

19.    Banyaknya peredaran makanan dan jajanan anak sekolah yang kurang optimal.

Peredaran makanan jajanan anak sekolah menunjukkan adanya kenaikan, meskipun penyebab akibat mengkonsumsi jajanan makanan di sekolah-sekolah tetapi pengawasan terhadap proses penyajian dan pembuatan produksi olahan makanan yang belum dilakukan secara maksimal.

20.    Sistem informasi Kesehatan (SIK) yang belum optimal pemanfaatannya.

Sistem informasi Kesehatan sebagai salah satu fungsi untuk meningkatkan manajemen Kesehatan, belum semua Puskesmas secara real time dapat mengirimkan laporannya ke Dinas Kesehatan, sampai saat ini bari sekitar 40% Puskesmas yang secara langsung dapat mengirimkan laporannya ke dinas Kesehatan.

•          Pengelolaan bidang kesehatan pada bencana dan percepatan pemulihan  paska bencana:

  • Ancaman meningkatnya penyakit menular akibat  PHBS dan kondisi sanitasi lingkungan di barak pengungsian/ huntara yang belum optimal
  • Ancaman penurunan status gizi terutama pada kelompok rentan pengungsi/korban bencana(balita dan bumil)
  • Belum terpenuhinya sarpras standar di wilayah Puskesmas KRB Gunung Merapi(a.l.mobil Puskesling,gedung Pustu)
  • Perlu peningkatan pendampingan dalam revitalisasi UKBM terutama di wilayah KRB Cangkringan
  • Pelaksanaan manajemen penanggulangan  bencana bidang kesehatan di UPT masih perlu  penguatan

•          Menjaga kualitas kesehatan penduduk

  • Ketersediaan sumberdaya kesehatan Dinkes dan UPT masih terbatas
  • Sarana yankes dan penunjang di wilayah yang makin kompleks perlu peningkatan peningkatan regulasi dan pengawasan
  • Penduduk miskin belum seluruhnya mendapat jaminan pembiayaan kesehatan serta belum terwujudnya pelaksanaan Jamkesda/Jamkesta(Jamkesdata)
  • Kondisi kesehatan lingkungan menurun akibat bencana erupsi merapi  dan perubahan iklim global

•          Peningkatan tata kelola dalam upaya meningkatkan kualitas pelayanan publik

  • Optimalisasi Implementasi SMM ISO 9001:2008 di Dinkes dan UPT
  • Implementasi BLUD Bertahap di UPT masih memerlukan pendampingan penguatan manajemen dan sumberdaya
  • Belum optimalnya implementasi SIK berbasis jaringan dan ketersediaan informasi publik
31
Dec

Implementasi ISO 9001:2008 bagi UPT Puskesmas

Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman saat ini mempunyai 25 unit Puskesmas yang tersebar di 17 wilayah kecamatan. sampai dengan tahun 2010 telah berhasil mengimplementasikan standar pelayanan dengan menerapkan ISO 9001:2000 maupun versi 9001:2008 sebanyak 16 UPT. Komitment dari Pemerintah Daerah ini menunjukkan bahwa pelayanan kesehatan menjadi tujuan utama untuk memberikan pelayanan yang terbaik bagi pelanggannya dan secara terus menerus dapat ditingkatkan.

Isi situs bersifat informatif bukan merupakan legal opinion dari Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman. Apabila terdapat data elektronik based yang berbeda dengan data resmi paper,
maka yang menjadi acuan adalah data resmi paper based.